detikNews
Kamis 28 Juni 2012, 12:54 WIB

Tak Ada Pengemis di Kayuagung OKI Sumsel?

- detikNews
Palembang - Kayuagung, ibukota kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, mungkin merupakan salah satu kota di Indonesia yang bebas dari gelandangan dan pengemis. Jika kita ke keramaian, baik pasar tradisional, taman, masjid, maupun pertokoan, kita sulit sekali menemukan pengemis.

\"Beberapa tahun lalu, ada juga pengemis. Tidak banyak, tapi sekarang sudah tidak ada lagi. Umumnya mereka para pendatang. Selain karena ditertibkan oleh petugas dari dinas sosial, wong Kayuagung, khususnya OKI, juga sangat malu jika ada keluarga atau dirinya menjadi pengemis, meskipun hidup mereka susah,\" kata Taslim, seorang warga Kayuagung.

\"Bagi wong OKI apapun mau dikerjakan, yang penting halal, dan jangan jadi pengemis. Kalau pun hidupnya susah ya jadi tukang ojek sepeda motor. Kalau tidak mau, ya menjadi buruh kebun,\" katanya.

Selain itu, kita juga sulit sekali menemukan sebuah keluarga miskin di gubuk reyot. Baik yang berada di kawasan daratan maupun di tepi Sungai Komering. Bagi keluarga yang belum mampu memiliki rumah sendiri, dia akan menetap di rumah induk keluarga. Rumah panggung berukuran besar yang diturunkan para leluhur mereka. Rumah-rumah ini sama sekali tidak akan dijual, justru terus diperbaiki oleh anggota keluarga yang mampu.

\"Itu merupakan tradisi dari wong Kayuagung. Mereka sangat malu jika ada keluarga yang tidak punya tempat tinggal,\" kata Darmansyah, warga Kayuagung lainnya.

Tapi, jika memang mereka tidak memiliki rumah yang tidak layak, maka pemerintah kabupaten OKI akan membantu dengan memberikan sebuah rumah panggung beserta isinya. Saat ini sekitar 600 keluarga yang telah dibantu secara gratis sebuah rumah. Lalu, adakah orang miskin di kabupaten OKI?

\"Tetap ada. Tapi sama sekali tidak ada yang menjadi pengemis atau gelandangan. Mereka yang miskin ini terus dibina agar hidupnya menjadi layak. Angka kemiskinan ini terus menurun,\" kata Asisten II Pemerintah Kabupaten OKI, Edward Candra, Kamis (28/06/2012).

Dijelaskan Edward, angka kemiskinan di OKI yang berpenduduk sekitar 600 ribu, mengalami penurunan. Bila tahun 2008 jumlah warga yang sangat miskin sebanyak 13.641 menurun menjadi 10.729 orang, miskin dari 35.576 menjadi 13.446, serta hampir miskin dari 29.467 menjadi 23.934 jiwa.

Dijelaskan Edward, penurunan angka kemiskinan di OKI, selain karena adanya dukungan dari pemerintah dalam sejumlah program pengentasan kemiskinan, juga sektor perkebunan seperti karet dan kelapa sawit saat ini merupakan lapangan pekerjaan utama warga OKI, yakni sekitar 28,47 persen.

\"Perlu diketahui harga karet meningkat dari tahun 2010 ke 2011 yaitu dari Rp 6.913 menjadi Rp 12.712 per kilogram. Begitu juga dengan harga buah kelapa sawit yaitu Rp 400 per kilogram menjadi Rp 900-1100 per kilogram,\" kata Edward.

Dengan menurunnya angka kemiskinan, tak heran realisasi pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten OKI tahun 2011 melampaui target penerimaan, dari target Rp 38,9 miliar menjadi Rp 47,3 miliar atau mencapai 121, 60 persen.

Target penerimaan pajak bumi dan bangunan sektor perkotaan dan pedesaan di Kabupaten OKI Tahun 2011 sebesar Rp 1,7 miliar terealisasi Rp 2,8 miliar atau mencapai 162 persen dari target.

Sementara itu Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan (BPHTB) yang ditargetkan Rp 1,2 miliar diterealisasi Rp 2 miliar atau mencapai 168 persen.

Nah, guna mencapai target target penerimaan PBB tahun 2012 sebesar Rp 21,1 miliar, pemerintah kabupaten OKI membantu keluarga miskin yang tidak mampu membayar PBB melalui PBB Gakin. Program ini ternyata berhasil. Bila tahun 2011 program mengeluarkan dana Rp 90 juta, pada 2012 mengalami penurunan menjadi Rp 80,7 juta.

\"Ini menunjukkan penurunan angka kemiskinan,\" klaim Edward.




(tw/try)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com