DetikNews
Kamis 08 Maret 2012, 10:00 WIB

Buku \'Runtuhnya Institusi Mahkamah Agung\'

Cerita Korupsi di MA dari Masa ke Masa

- detikNews
Cerita Korupsi di MA dari Masa ke Masa
Jakarta - Mahkamah Agung (MA) menyimpan banyak cerita. Lembaga peradilan tertinggi di Indonesia ini menjadi salah satu potret sejarah hukum di Indonesia, terutama saat rezim Orde Baru.

\\\"Pada awal 1980-an, bertepatan dengan pensiunnya Seno Adji sebagai Ketua MA pemerintah melancarkan operasi anti-korupsi yang khusus ditujukan ke lembaga peradilan. Kampanye yang dinamakan OPSTIB membongkar jaringan korupsi peradilan yang begitu luas hingga muncul istilah \\\'mafia peradilan\\\',\\\" kata Sebastian Pompe.

Peneliti dari Belanda ini mengungkapkannya di halaman 582 buku \\\'Runtuhnya Institusi Mahkamah Agung\\\' seperti dikutip detikcom, Kamis (8\/3\/2012).

Pompe menceritakan, ketika anak Seno Adji berbulan madu ke Surabaya pada 70-an akhir. Saat itu Seno Adji memaksa Ketua Pengadilan Negeri (PN) Surabaya menyetempel pengeluaran bulan madu anaknya dengan stempel perjalanan dinas. Begiu pula saat Seno Adji dan keluarga liburan ke Jepang.

\\\"Seno Adji sangat sibuk dengan uang, sama seperti beberapa hakim agung yang lain. Hanya dua atau tiga orang yang jujur, selain itu mereka semuanya terlibat. Kadang-kadang uang datang langsung dari para pihak berperkara atau dari para penasihat hukum mereka. Juga dari PN yang punya jalur ke Seno Adji yang menyerahkan sebagian uang perolehan mereka. Ada beberapa ketua PN yang menjadi kaki tangan Seno Adji dan mereka inilah yang mengirimkan uang,\\\" tulis peneliti yang biasa dipanggil \\\'Bas\\\' ini.

Akibat banyaknya korupsi, maka usai 1980-an semakin sulit bagi seorang hakim MA mempertahankan integritasnya. Jumlah hakim yang baik dan jujur merosot dan dikucilkan.

\\\"Jika dahulu orang harus mencari seorang hakim yang korupsi dengan lentera, sekarang ia harus menggunakan lentera itu untuk mencari hakim yang jujur,\\\" ujar sumber Pompe.

Cerita di atas berkebalikan dengan MA tahun 1950-an. Saat itu salah satu Ketua MA, Wirjono Kusuma, berangkat ke kantor menggunakan sepeda gowes.

\\\"Wirjono Kusuma adalah hakim hebat. Melangkah tegap, ia berjalan melewati meja kami dengan jari mengusap meja untuk memeriksa ada debu atau tidak. Ia pergi pulang ke dan dari kantor naik sepeda. Saat pulang ia akan melambai kepada Anda layaknya seorang bapak dari seberang jalan,\\\" kata sumber Pompe lagi.

Buku ini merupakan kajian Pompe yang dipresentasikan di luar negeri pada 1996. Lantas kajian tersebut hadir dalam buku berbahasa Inggris pada 2005 yang beredar di berbagai negara dan menjadi referensi utama dalam mengkaji hukum di Indonesia. Bulan Februari 2012 Lembaga Kajian & Advokasi untuk Independensi Peradilan (LeIP) menerbitkan buku setebal 698 tersebut dalam bahasa Indonesia.

\\\"Rangkaian fakta dan analisis dalam buku ini tentu akan menjadi bahan perdebatan bagi para pemerhati dan praktisi hukum dan peradilan,\\\" tulis LeIP dalam lembaran kata pengantar.




(asp/nrl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed