detikNews
Minggu 08 Mei 2011, 12:13 WIB

Kisah Pesawat MA 60 Merpati Buatan China dan Proyek Listrik 10 Ribu MW

- detikNews
Kisah Pesawat MA 60 Merpati Buatan China dan Proyek Listrik 10 Ribu MW
Jakarta - Tragedi pesawat Merpati buatan China, MA 60, jatuh di Teluk Kaimana, Papua Barat, membuat ingatan lari ke tahun-tahun lalu. Pengadaan pesawat buatan Xian Aircraft Corporation itu sangat alot dan berbelit. Disebut-sebut pembelian pesawat ini berhubungan dengan pengadaan proyek listrik 10 ribu megawatt.

detikcom<\/strong> merangkai kisah pesawat itu berdasarkan berita-berita lampau:

Tahun 2007<\/strong>

Merpati Nusantara Airlines (MNA) akan menambah armadanya tahun ini. Merpati akan mendatangkan 2 pesawat dari China<\/a>. Hal tersebut disampaikan Manager Corporate Communication Merpati Widodo Aryanto ketika dihubungi detikFinance, Jumat (24\/8\/2007).

\\\"Nanti tanggal 28 Agustus baru berangkat dari China, ya mungkin sampai di Indonesia 2 hari berikutnya,\\\" ujarnya.

Pesawat China yang dibeli Merpati merupakan pesawat Xinzhou 60 (MA-60) dengan kapasitas sekitar 60 orang. Namun Merpati akan memodifikasi pesawat sehingga kapasitasnya berkurang menjadi 58 tempat duduk.

MA-60 diproduksi oleh China Aviation Industry Shaanxi di Provinsi Shaanxi. Pesawat ini dapat terbang sampai ketinggian 6.000 meter dari permukaan laut dengan jarak penerbangan mencapai 1.600 km. Merpati menargetkan untuk mendatangkan 15 pesawat MA-60. Pesawat lainnya pesawat akan dikirim dalam beberapa tahun.

Tahun 2009<\/strong>

Xian Aircraft Industry Company Ltd sebagai pabrikan pesawat yang mendapat pesanan 15 unit pesawat MA60 menggugat MNA karena MNA belum juga menyelesaikan masalah pembayaran pembelian pesawat. Nilai gugatan mencapai Rp 1 truliun.

Dari 15 unit pesanan, sudah 2 unit tiba ke Indonesia sementara 13 unit lainnya masih tertunda.

Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendorong PT MNA untuk melawan ancaman itu. MNA mengaku tidak rela dipaksa menerima kontrak pembelian pesawat dari pabrikan China. Kontrak tersebut dinilai sangat bisa membuat Merpati bangkrut.

Hal ini disampaikan
Sesmenneg BUMN sekaligus Komisaris Merpati Said Didu<\/a> di sela-sela rapat dengar pendapat Pertamina dengan Komisi VII di gedung DPR, Jakarta, Senin (23\/2\/2009).

\\\"Merpati tidak rela dipaksa menerima deal itu dan nantinya bangkrut,\\\" katanya.

Ia meminta pemerintah untuk mempertimbangkan baik-baik bagaimana dampaknya terhadap beban Merpati di masa depan.

\\\"Kita minta pemerintah melihat seberapa besar beban Merpati jika mengambil kontrak segitu. Harus dilihat jumlah harga dan garansinya,\\\" katanya.

Pemerintah pun menunjuk
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu<\/a> untuk melakukan lobi.

\\\"Pemerintah sudah menunjuk Mendag untuk bicara dengan China,\\\" kata Mensesneg Hatta Rajasa di Istana Negara, Jakarta, Selasa (10\/2\/2009).

Apakah Indonesia akan segera melunasi tunggakan? \\\"Semua ini kan kesepakatan B to B (business to business), jadi kita selesaikan secara B to B pula. Ibu Mari masih membicarakannya secara bilateral,\\\" tegas Hatta lagi.

Hal senada pernah disampaikan Menneg BUMN Sofyan Djalil yang berharap masalah ini bisa diselesaikan dengan baik-baik.

\\\"Kalau dituntut ya kita lawanlah. Intinya kita ingin menyelesaikan secara baik-baik. Tapi kalau kita baik tapi mereka mau nuntut, ya kita lawan,\\\" kata Sofyan pada Rabu (4\/2\/2009) lalu.

Ia mengatakan, saat ini Merpati sedang melakukan negosiasi mencakup soal harga, jumlah, jaminan kualitas termasuk jaminan pembelian kembali. Kementerian BUMN ingin seluruh masalah tersebut bisa diselesaikan terlebih dahulu sebelum pembelian selanjutnya.

Proyek Listrik 10 Ribu MW<\/strong>

Menteri ESDM saat itu,
Purnomo Yusgiantoro mengungkapkan, pemerintah China menahan pendanaan proyek listrik 10 ribu MW tahap pertama karena masalah pembelian pesawat oleh Merpati dari pabrikan China<\/a>, Xian Aircraft Industry Company Ltd.

\\\"China menahan pencarian dana untuk 10.000 MW tahap pertama karena semula Merpati mau beli pesawat dari perusahaan China tapi ternyata dibatalkan karena harga pesawat dinilai terlalu tinggi. Makanya China menahan kucuran dana untuk pembangunan 10.000 MW pertama,\\\" katanya di sela-sela raker dengan Komisi VII di gedung DPR, Jakarta, Senin (23\/2\/2009).

Ketika dikonfirmasi apa benar pembatalan pembelian pesawat menjadi kendala kucuran dana dari China, Purnomo menjawab,\\\"Mereka memang menggunakan itu untuk tahan aliran dana ke proyek 10.000 MW tahap pertama. Makanya kami ingin klarifiaksi itu dengan pemerintah China. Jangan sampai itu dilakukan, karena kami akan kesulitan dengan masalah Merpati ini.\\\"

Hal itu lalu dikonfirmasikan kepada Sesmenneg BUMN sekaligus Komisaris Merpati Said Didu di sela-sela rapat dengar pendapat Pertamina dengan Komisi VII di gedung DPR, Jakarta, Senin (23\/2\/2009).

Said mengaku tidak mengetahui secara jelas hubungan rencana pembelian pesawat Merpati dengan pendanaan 10.000 MW. Menurut Said, Merpati tidak mau dipaksa pemerintah menerima kontrak tersebut.

\\\"Saya nggak tahu hubungannya dengan 10.000 MW. Intinya kita nggak rela dipaksa pemerintah terima kontrak itu, nantinya bisa bikin bangkrut,\\\" katanya.

Namun Wapres saat itu,
Jusuf Kalla<\/a>, mengatakan masalah pesawat MNA tak terkait dengan proyek listrik 10 ribu MW.

\\\"Soal Merpati sebenarnya terpisah dengan PLN, karena PLN sudah berjalan negosiasinya. Dan juga Merpati juga sudah berjalan negosiasinya, karena itu sudah kontrak yang lama,\\\" katanya usai salat Jumat di Istana Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (6\/3\/2009)

Ia mengakui, adanya krisis membuat negosiasi jadi lebih alot. Pihak China menginginkan perubahan kontrak yang membuat bunga pinjaman untuk proyek 10.000 MW naik.

\\\"Pemerintah tetap meminta mereka bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan yang baik. Merpati dapat sistem transportasi dan juga dengan pembiayaan yang lebih efisien. Kemudian, kalau PLN itu tetap jalan. Itu pedoman pemerintah,\\\" katanya.

Menteri Keuangan sekaligus
Menko Perekonomian Sri Mulyani saat itu bertolak ke China<\/a> pada hari ini untuk melakukan negosiasi dengan China.

\\\"Jadi tujuan kita nanti lebih kepada bagaimana kita akan merealisir berbagai kerjasama terutama yang selama ini kurang atau belum, kurang mulus, belum seusai dengan jadwal yang kita inginkan,\\\" ujar Sri Mulyani ketika ditemui di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Selasa malam (17\/3\/2009).

Konflik pembelian pesawat Merpati dari pabrikan asal China, Xian Aircraft,
yang tadinya B to B akhirnya dibawa ke level antar pemerintah atau government to government (G to G)<\/a>. Masalah pembelian pesawat Merpati ini sempat menganggu pendanaan 10.000 MW dari China.

\\\"Sedang dibahas dalam level G to G,\\\" kata Menko Perekonomian Sri Mulyani usai bertemu Presiden SBY di Istana Merdeka, Selasa (24\/3\/2009) ketika ditanya perkembangan kasus Merpati.

MNA Tolak Pesawat MA 60<\/strong>

PT MNA memutuskan untuk membatalkan dan tidak akan membeli seluruh pesawat dari produsen pesawat asal China, Xian Aircraft<\/a>. Menurut salah satu eksekutif Merpati, penolakan tersebut terkait dengan alasan teknikal dan komersial yang tidak menguntungkan bagi BUMN tersebut.

\\\"Salah satunya dengan ditemukannya crack (kerusakan) pada bagian mesin beberapa waktu yang lalu,\\\" ujar sumber tersebut di Jakarta, Rabu (3\/6\/2009) malam.

Ia menambahkan, pihak manajemen Merpati sudah menyatakan keberatannya kepada tim privatisasi yang terdiri dari Kementerian Negara BUMN dan departemen terkait lainnya. Pihaknya juga tidak gentar jika pihak China melayangkan arbitrase terkait penolakan pembelian pesawat tersebut.

\\\"Ya silakan saja arbitrase. Kami bisa arbitrase balik karena (China) kirim barang enggak bagus,\\\" ucapnya.

PT MNA bahkan menghentikan penerbangan pesawat MA60 buatan Xian Aircraft asal China setelah ditemukannya kerusakan di bagian rudder atau sayap belakang pesawat.<\/a> Menurut Direktur Utama Merpati saat itu Bambang Bhakti, penghentian penerbangan pesawat asal China tersebut mulai awal pekan ini.
 
\\\"Karena ditemukan crack di bagian rudder pesawat, kita putuskan untuk grounded dulu untuk sementara,\\\" katanya usai rapat dengar pendapat bersama Komisi XI DPR di Gedung DPR\/MPR, Senayan, Jakarta, Rabu (10\/6\/2009).

Ia mengatakan, penghentian penerbangan tersebut akan dilakukan sampai ada penjelasan resmi dari Xian selaku produsen pesawat tersebut. Perusahaan negara itu sudah melayangkan surat kepada pihak China dan tinggal menunggu jawaban.
 
\\\"Tapi kita juga punya tim sendiri yang memeriksa, jadi nanti hasil pemeriksaannya bisa seimbang,\\\" katanya.
 
Ia juga mengatakan, berhentinya jalur penerbangan tersebut membuat kinerja BUMN aviasi itu tidak maksimal. \\\"Pasti bikin kerugian, yang seharusnya terbang kan sekarang tidak,\\\" katanya.

Nego Dilanjutkan<\/strong>

Sempat mandeg dan buntu, akhirnya
negosiasi MNA dengan Xian Aircraft dilanjutkan.
<\/a>
\\\"Menko Perekonomian minta untuk segera diselesaikan, jadi keputusannya untuk terus melanjutkan negosiasi dengan China, tidak ada opsi batal,\\\" kata Menteri Perhubungan Jusman Syafi\\\'i Djamal saat ditemui usai rakor di Kantor Menko Perekonomian, Lapangan Banteng, Jumat (31\/7\/2009) malam.

Jusman mengatakan, negosiasi dengan pemerintah China akan dilakukan oleh Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu. Negosiasi itu kata dia, akan mencakup soal jumlah pesanan pesawat dan harga.

\\\"Negosiasi dilanjutkan, yang akan dilakukan oleh Mendag dengan China,\\\" ucapnya.

\\\"Mereka minta proses pergantian spare part dari Xian, yang crack, yang terjadi pada satu pesawat. Sekarang ini sedang uji terbang lagi, semuanya yang sewa,\\\" ucapnya.

Menurutnya, penggantian dan pemasangan suku cadang yang dilakukan oleh China terhadap dua pesawat tersebut tidak dikenai biaya. \\\"Mereka akan mengganti. Seperti ada service gratis, akan mengganti spare part,\\\" jelas Jusman.

Akhirnya, 15 pesawat MA 60 pabrikan Xian jadi didatangkan.
PT MNA berencana mendatangkan sekitar 22 pesawat hingga tahun 2010 untuk menambah armada perseroan.<\/a> Sebanyak 15 pesawat dengan jenis MA60 didatangkan dari Xian Aircraft, sedangkan 7 sisanya berupa ATR 72 dari Perancis.

\\\"Kita ada pesawat ATR 72 dari Perancis dan MA 60 dituntaskan kalau disetujui RUPS,\\\" kata Direktur Utama Merpati Bambang Bhakti usai menghadiri serah terima jabatan Menteri BUMN di kantor Kementerian Negara BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis(22\/10\/2009).

Ia mengatakan, hingga saat ini, dengan adanya tambahan armada tersebut, maka diharapkan BUMN aviasi itu bisa melayani rute di seluruh Indonesia, mulai dari Sabang hingga Merauke.

\\\"Kalau tahun depan sudah ada tambahan 22 propeller , kita akan jadi king of propeller di Indonesia,\\\" ujarnya.

Tahun 2011<\/strong>

PT MNA siap menanti 6 armada MA-60 baru dari Xian Aircraft, China di tahun ini. Perseroan berharap Armada baru itu bisa menghasilkan laba operasi Rp 42 miliar.<\/a>

\\\"Tahun ini akan datang lagi 6 armada dari Xian. Armada itu akan datang di bulan Maret, April, Mei. Setiap bulan datang dua,\\\" kata Direktur Utama Merpati Jhony Sardjono Tjitrokusumo kepada detikFinance, Kamis (10\/2\/2011).

Ia mengatakan, pesawat yang dikirim dari China ini sudah memenuhi standar dan tidak akan bermasalah seperti pesawat yang dikirim sebelumnya. Pasalnya, Jhony yang mantan pilot ini sudah mencoba sendiri pesawat tersebut.

\\\"Saya sendiri ikut waktu mereka melakukan tes penerbangannya, dan itu tesnya pesawat propeller paling aman yang pernah saya naik,\\\" imbuhnya.





(nwk/nrl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com