Siswa Banyuwangi yang Belajar di Masjid Kini Punya Kelas di Kantor Kecamatan

Ardian Fanani - detikNews
Sabtu, 27 Nov 2021 08:10 WIB
35 Siswa SDN 7 Tegalharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, terpaksa belajar di masjid. Hal itu dilakukan karena jembatan yang menjadi akses ke sekolah mereka ambruk.
Siswa belajar di masjid karena jembatan ambruk (Foto: dok. SDN 7 Tegalharjo)
Banyuwangi -

Terkait ambruknya Jembatan Carangan di Kecamatan Glenmore, Pemkab Banyuwangi langsung mengambil langkah. Selain melakukan pembangunan jembatan, pemkab juga mengupayakan gedung alternatif bagi siswa SDN 7 Tegalharjo yang terdampak.

Seperti diketahui, Jembatan Carangan yang menghubungkan Dusun Gunungkrikil, Desa Tegalharjo dengan Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore ambruk diterjang arus deras sungai akibat hujan deras pada Kamis (18/11/2021). Ambruknya jembatan yang menghubungkan akses kedua desa tersebut, menyebabkan kegiatan belajar mengajar di SDN 7 Tegalharjo terganggu.

Gedung sekolah SDN 7 Tegalharjo sendiri berada di Desa Karangharjo yang terletak di ujung barat jembatan, sementara mayoritas siswa berada di wilayah Desa Tegalharjo. Karena akses lewat jembatan terputus, sebanyak 46 siswa sekolah tidak bisa belajar di sekolah. Untuk sementara, mereka terpaksa belajar di masjid, karena untuk menuju sekolah mereka harus mengambil jalan alternatif yang jauhnya 3 km lebih.

"Untuk sementara sambil menunggu perbaikan jembatan, 46 siswa tersebut akan difasilitasi belajar di Kantor Kecamatan Glenmore. Ruang belajarnya akan disediakan di aula kantor kecamatan, ruang pertemuan, hingga rumah dinas camat. Sabtu (27/11/2021), mereka bisa mulai belajar di kantor kecamatan, sampai akses jalannya tersambung kembali," kata Plt Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi, Suratno.

35 Siswa SDN 7 Tegalharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, terpaksa belajar di masjid. Hal itu dilakukan karena jembatan yang menjadi akses ke sekolah mereka ambruk.Foto: dok. SDN 7 Tegalharjo

Bagi 5 siswa yang rumahnya di Dusun Gunungkrikil, Desa Tegalharjo, akan tetap belajar di sekolah mengingat akses mereka menuju sekolah tidak terganggu.

"Siswa yang tinggal di Dusun Gunungkrikil ada 5 siswa. Kebetulan di situ ada satu guru, beliau lah yang akan mengawal siswanya," cetusnya.

Suratno memastikan, gedung alternatif untuk menampung para siswa SD ini sudah memenuhi kelayakan untuk digunakan proses pembelajaran. Gedung alternatif juga harus nyaman, karena sebentar lagi para siswa akan menghadapi ujian.

"Ini kondisi force majeure, namun pembelajaran harus tetap jalan. Saya kira, gedungnya sudah layak untuk digunakan belajar siswa," terangnya.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Cipta Karya dan Penataan Ruang (PUCKPR) Danang Hartanto menambahkan, pembangunan Jembatan Carangan akan segera dilakukan pada 2022 mendatang.

"Kalau dikerjakan tahun ini belum memungkinkan karena anggaran kita terbatas. Pekerjaannya membutuhkan anggaran sekitar Rp 600 juta lebih. Namun ini akan menjadi prioritas kami di tahun 2022," kata Danang.

Sementara menunggu pembangunan dilakukan, lanjut Danang, warga dua desa bisa menggunakan jalan alternatif melalui Jolondoro sejauh 3 kilometer. "Beberapa hari lalu sudah bertemu dengan aparat desa, tokoh-tokoh setempat terkait ambruknya jembatan ini membahas untuk pembangunan jembatan ini tahun depan. Untuk sementara, masyarakat bisa menggunakan jalur alternatif yang ada," jelas Danang.

Jembatan Carangan yang membentang di atas sungai perbatasan Desa Karangharjo dan Tegalharjo ini dibangun 2007 lalu, dengan panjang 23 meter, lebar 3 meter, dan tinggi 10 meter.

(iwd/iwd)