Melihat Pesanggrahan The Raung, Peninggalan Belanda di Bondowoso

Chuk Shatu Widarsha - detikNews
Minggu, 21 Nov 2021 11:52 WIB
Bangunan peninggalan zaman Belanda ini mulai dilirik wisatawan yang berkunjung ke Bondowoso. Bangunan ini memiliki arsitektur yang klasik dan tampak eksotis.
Pesanggrahan The Raung/Foto: Chuk Shatu Widarsha/detikcom
Bondowoso - Bangunan peninggalan zaman Belanda ini mulai dilirik wisatawan yang berkunjung ke Bondowoso. Bangunan ini memiliki arsitektur yang klasik dan tampak eksotis.

Bangunan yang berdiri di lahan sekitar satu hektar ini bernama Pesanggrahan Sumber Wringin. Sebab terletak di Desa dan Kecamatan Sumberwringin, Bondowoso. Jaraknya sekitar 35 dari pusat kota.

Informasi dari berbagai sumber, bangunan ini dibangun sekitar tahun 1930. Setelah Belanda hengkang dari Indonesia pascakemerdekaan, selama puluhan tahun bangunan ini terbengkalai.

Bangunan peninggalan zaman Belanda ini mulai dilirik wisatawan yang berkunjung ke Bondowoso. Bangunan ini memiliki arsitektur yang klasik dan tampak eksotis.Pesanggrahan The Raung/ Foto: Chuk Shatu Widarsha/detikcom

Bagi warga sekitar, tempat ini sering disebut 'kamar bola'. Istilah ini memang lazim digunakan sejak zaman Belanda. Mungkin karena salah satu sisi bangunan tampak melengkung setengah lingkaran. Seperti bola.

Ada 3 bagian di bangunan ini. Yakni bagian paling depan yang tampak setengah lingkaran berfungsi sebagai aula. Dapat digunakan untuk ruang pertemuan. Lalu bagian tengah terdiri kamar-kamar. Serta bagian belakang juga terdapat beberapa ruangan.

Konon, pada zaman Belanda tempat ini merupakan tempat peristirahatan atau tetirah para penguasa kolonial. Sebab, Sumberwringin merupakan kawasan berhawa sejuk. Karena berada di lereng Gunung Raung.

Sama seperti bangunan peninggalan Belanda lainnya, bangunan ini juga memiliki pondasi dasar cukup tinggi. Sekitar 1-2 meter di atas permukaan tanah. Sehingga terkesan kokoh berdiri. Pun arsitekturnya, dengan pintu dan jendela tampak lebar dan tinggi.

Bukan hanya itu, masing-masing kamar memiliki konsep yang selalu terhubung antara kamar satu dengan lainnya. Di bangunan induk ini terdapat 5 kamar berukuran besar. Sementara di bagian belakang terdapat kamar dengan ukuran lebih kecil.

Belakangan, bangunan bersejarah ini dikelola sepenuhnya oleh Dinas Parpora Bondowoso. Sehingga tampak terawat dan makin asri, dengan beberapa bagian tampak direnovasi. Namun tak menghilangkan arsitektur aslinya. Namanya pun sudah berganti, Pesanggrahan The Raung.

"Kami fungsikan semacam home stay. Selain sebagai basecamp pendaki yang hendak mendaki ke gunung Raung," jelas Kepala Bidang Pariwisata, Disparpora Bondowoso, Arif Setyo Raharjo kepada detikcom, Minggu (21/11/2021).

Simak juga 'Cerita Misteri Jembatan Cirahong Peninggalan Belanda':

[Gambas:Video 20detik]



Menurutnya, bangunan ini sangat strategis. Multifungsi. Selain untuk peristirahatan ketika hendak atau balik dari Gunung Raung, tak jauh dari tempat ini juga terdapat tanaman eucalyptus atau kerap disebut sebagai hutan pelangi. Karena batang pohonnya tampak berwarna-warni.

"Kami juga merencanakan tempat ini untuk dijadikan coffee techno park. Yakni tempat untuk mengetahui proses pengolahan kopi, dari pascapanen hingga siap saji jadi minuman," papar Arif.

Bangunan peninggalan zaman Belanda ini mulai dilirik wisatawan yang berkunjung ke Bondowoso. Bangunan ini memiliki arsitektur yang klasik dan tampak eksotis.Pesanggrahan The Raung/ Foto: Chuk Shatu Widarsha/detikcom

Pantauan di lokasi, pada hari-hari tertentu khususnya akhir pekan tempat ini juga sering dikunjungi wisatawan lokal maupun warga sekitar. Kendati hanya untuk sekadar berswafoto.

Pun tak jarang yang datang bersama keluarga. Terutama yang memiliki anak kecil. Sebab, di halaman depan dan belakang bangunan kini disediakan taman bermain, dengan beragam wahana permainan. (sun/bdh)