Bos Apartemen di Surabaya Dijebloskan Hakim ke Penjara Usai Sidang Dakwaan

Amir Baihaqi - detikNews
Jumat, 12 Nov 2021 17:21 WIB
bos apartemen di surabaya dijebloskan penjara
Bos apartemen di Surabaya dijebloskan penjara (Foto: Dok. Erick Ibrahim Wijayanto)
Surabaya -

Seorang bos apartemen di Surabaya, Stephanus Setyabudi, dijebloskan ke penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Surabaya. Hakim memerintahkan penahanan direktur PT Papan Utama Indonesia ini sesaat setelah dakwaannya dibacakan oleh jaksa.

Sidang dakwaan yang dihadiri terdakwa Stephanus terjadi pada Rabu (10/11). Saat itu jaksa I Gede Willy Pramana menilai terdakwa telah melanggar Pasal 8 ayat (1) huruf f jo Pasal 62 ayat (1) UU No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.

Usai mendengar dakwaan itu, hakim ketua Suparno kemudian memerintahkan jaksa agar langsung dilakukan penahanan di rutan Polrestabes Surabaya. Sebab selama ini, terdakwa hanya berstatus tahanan rumah.

Erick Ibrahim Wijayanto, pengacara salah satu konsumen menyambut baik keputusan majelis hakim PN Surabaya. Menurutnya, majelis hakim memang mempunyai kewenangan untuk menahan terdakwa. Hal itu sesuai dengan Pasal 20 ayat 3 KUHP.

"Penetapan penahanan terhadap terdakwa sudah tepat, karena majelis hakim yang memeriksa perkara ini memiliki kewenangan untuk menahan terdakwa di persidangan sesuai pasal 20 ayat 3 KUHAP," kata Erick kepada wartawan, Jumat (12/11/2021).

Erick kemudian menjelaskan kasus yang menjerat terdakwa. Ia menuturkan kasus bermula pada tahun 2010. Saat itu, terdakwa menawarkan pembelian apartemen akan mendapatkan kamar Hotel Bintang 4 seluas 30 meter persegi tipe deluxe dengan cukup membayar uang muka 30 persen. Namun kenyataannya, konsumen hanya mendapatkan luas kamar 26 meter persegi atau tak sesuai dengan penawaran.

Fakta lain yang ditemukan, lanjut Erick, selama 3 tahun terakhir, apartemen atau hotel ternyata beroperasi tanpa ada izin tanda daftar usaha pariwisata (TDUP). Meski demikian, hotel tetap beroperasi bahkan selama pandemi COVID-19 demi mengejar hibah pemerintah. Akibat perbuatannya itu kliennya telah mengalami kerugian sekitar Rp 860 juta. Padahal, selain kliennya, diketahui masih ada pemilik 278 unit kamar lainnya yang mengalami nasib sama.

Karena merasa dirugikan, kliennya kemudian melaporkan dugaan terjadinya perbuatan penipuan atau penggelapan atau tindak pidana bidang Perlindungan Konsumen. Setelah menjalani proses penyidikan panjang terlapor kemudian menjadi tersangka.

Sebelumnya, pada 2018, terdakwa juga pernah dilaporkan oleh belasan investor pemilik unit Kondominium Hotel The Eden Kuta, Bali melapor ke Polda Jatim. Mereka melaporkan dugaan penipuan dengan total Rp 72 Miliar oleh tiga pengembang dan pengelola apartemen.

Belasan perwakilan korban itu melaporkan tiga tersangka yakni Direktur Utama PT Papan Utama Indonesia Stephanus Setyabudi, yang beralamat di Jalan Semolowaru, Sukolilo Surabaya dan 2 kuasa hukum PT Papan Utama Indonesia yakni Stefanus Fallis Syafarianto dan I Putu Bagus Suryadi.

(iwd/iwd)