Pemalsu Buku Nikah di Surabaya Ditangkap, Tarifnya Hingga Rp 2,5 Juta

Amir Baihaqi - detikNews
Kamis, 21 Okt 2021 21:25 WIB
pemalsuan buku nikah
Buku nikah palsu dan puluhan stempel yang diamankan (Foto: Dok. Polsek Wonocolo)
Surabaya -

Seorang pemalsu buku nikah dan ijazah di Surabaya ditangkap. Puluhan stempel, buku nikah dan ijazah palsu diamankan dari kos nya.

Tersangka adalah Umar Hadi (66) warga Rungkut, yang kos di kawasan Bungurasih, Sidoarjo. Tersangka merupakan residivis kasus yang sama pada tahun 2008.

Kapolsek Wonocolo Kompol Roycke HF. Betaubun mengatakan tersangka ditangkap di Jalan Siwalankerto pada 30 September lalu. Saat itu, tersangka akan akan mengirimkan buku nikah palsu ke pemesannya.

"Saat itu Unit Reskrim Polsek Wonocolo berhasil mengamankan pelaku. Karena membawa surat atau dokumen buku nikah yang diduga palsu," jelas Roycke, Kamis (21/10/2021).

"Setelah diinterogasi ternyata pelaku hendak menyerahkan buku nikah tersebut kepada seseorang. Dan setelah diminta keterangan ternyata buku nikah tersebut pelaku sendiri yang buat," imbuhnya.

pemalsuan buku nikahUmar Hadi, pemalsu buku nikah (Foto: Dok. Polsek Wonocolo)

Mendapat pengakuan itu, lanjut Roycke, pihaknya langsung mendatangi tempat kos tersangka. Hasilnya, di tempat tersebut, petugas mendapati sejumlah buku nikah dan ijazah palsu beserta puluhan stempelnya.

"Selanjutnya tim bergerak untuk mengembangkan kasus tersebut. Dan tim bergerak menuju tempat kos pelaku di Bungurasih dan di tempat kos pelaku, ditemukan beberapa ijazah, buku nikah, dan stempel stempel," terang Roycke.

"Stempel palsu ini dari berbagai macam yang dibuat pelaku. Mulai KUA, nama kepala KUA, kelurahan, Sekolah SMA.

Roycke HF. Betaubun menjelaskan tersangka mematok tarif bervariatif. Untuk buku nikah tersangka mematok harga Rp 1 juta sedangkan ijazah, ia mematok lebih mahal yakni Rp 2,5 juta.

"Keterangan pelaku, untuk memesan buku nikah seharga Rp 1 juta. Kalau Ijazah S1 seharga Rp 2,5 juta," terang Roycke.

Menurut Roycke, seluruh pembuatan dokumen palsu itu dibuat sendiri secara manual oleh pelaku. Ia menguasai pembuatan karena memang pelaku residivis yang sama.

"Semua yang mengerjakan pelaku sendiri. Dan pelaku sendiri adalah Residivis dalam kasus yang sama pada tahun 2008," tutur Roycke.

"Untuk tersangka, kami kenakan Pasal 263 ayat 1 Jo Pasal 266 ayat 1 KUHP," pungkas Roycke.

Lihat juga video 'Polisi Bongkar Sindikat Pemalsu Hasil Swab Corona Hingga Ijazah':

[Gambas:Video 20detik]



(iwd/iwd)