Kata Warga Tentang Pengasuh Ponpes yang Diduga Cabuli-Perkosa Santriwati

Enggran Eko Budianto - detikNews
Selasa, 19 Okt 2021 20:25 WIB
Pengasuh Pesantren di Mojokerto Dilaporkan ke Polisi Diduga Cabuli Santriwati
Pengasuh Ponpes di Mojokerto, AM (52)/Foto: Enggran Eko Budianto
Mojokerto -

Pengasuh Ponpes di Mojokerto, AM (52), dilaporkan ke polisi karena diduga mencabuli dan memerkosa santriwati. Seperti apa sosoknya di mata masyarakat setempat.

Ponpes itu mempunyai sekitar 100 santri berusia 5-15 tahun. Para santri ditempatkan di dua lokasi berbeda. Yaitu di pondok yang terletak di Desa Sampangagung, Kecamatan Kutorejo dan di pondok Desa Simbaringin, Kecamatan Kutorejo.

Warga berinisial TW (21) mengatakan, pada awalnya AM mengajar mengaji anak-anak warga setempat di rumahnya. Sekitar 6 tahun yang lalu, rumah keluarga AM menjadi Ponpes. Menurut dia, para santri berasal dari Sidoarjo, Lamongan, Gresik dan Madura.

"Awalnya (rumah AM) tempat anak mengaji semacam TPQ, yang awal-awal anak sekitar sini saja yang mengaji, diajar AM sendiri dan anaknya. Setelah tahu kelakuannya seperti itu, anak-anak keluar semua," kata TW kepada wartawan di lokasi, Selasa (19/10/2021).

Ia menilai, AM kurang bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Pria asal Lamongan itu disebut pernah mengganggu ketenangan warga sekitar.

"Misalnya memakai pengeras suara memutar lagu ngaji tidak tahu waktu. Jam 12 siang, habis subuh kan jam orang istirahat, hampir tiap hari. Sampai ditegur kakak saya yang rumahnya di sebelah barat pondok, hampir berkelahi, tapi didamaikan kepala dusun. Akhirnya dia (AM) mau mengalah," terang TW.

TW mengaku baru mengetahui AM tersandung kasus dugaan pencabulan dan pemerkosaan terhadap santriwatinya sendiri. "Saya baru tahu, saya sangat kecewa," ujarnya.

Hal senada dikatakan Kepala Dusun di Desa Sampangagung, Agus Diyanto. Ia menilai bapak empat anak itu kurang bisa bersosialisasi dengan warga sekitar.

"Bahkan saat kami mengadakan imunisasi campak dan polio untuk anak didiknya tahun 2017/2018 ditolak, anggapannya vaksin haram, petugas dari Dinas Kesehatan disuruh pergi. Selama PPKM kemarin juga mokong, sudah tahu jalan ditutup malah mendatangkan tamu dari luar kota, saya obrak kemarin itu. Saat PPKM sebagian santri diliburkan, sebagian lainnya tetap di pondok. Sudah kami beri peringatan, tidak digubris," ungkapnya.

Namun, tidak semua warga memberi penilaian negatif terhadap AM. Seperti yang dikatakan pria berinisial Z (45). "Beliau orangnya baik, dia kan punya pondok pesantren, otomatis ya beliau pengajar yang baik di mata kami," terangnya.

Tonton juga Video: Kapolda Sulteng Langsung Membebastugaskan Kapolsek Parigi

[Gambas:Video 20detik]