Siswa SMP di Surabaya Dites PCR Demi Cegah Klaster Sekolah Selama PTM

Esti Widiyana - detikNews
Selasa, 28 Sep 2021 20:28 WIB
siswa smp 60 surabaya dites PCR
Siswa SMPN 60 Surabaya dites PCR (Foto: Esti Widiyana)
Surabaya -

Sebelum memulai pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas, SMP Negeri 60 Surabaya melakukan tes PCR kepada siswanya. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan kesehatan siswa hingga guru agar tidak terjadi klaster COVID-19 di sekolah.

Kepala Sekolah SMPN 60 Surabaya, Gatut Ponco Wibawa mengatakan tes PCR ini dilaksanakan karena mendapat rekomendasi PTM terbatas. Selain itu juga agar tidak terjadi klaster sekolah.

"Untuk mengantisipasi klaster baru di sekolah, maka sekolah atas intruksi dari dinas pendidikan maupun dinas kesehatan menyelenggarakan swab bagi sekolah, baik guru, tenaga pendidik, dan siswa," kata Gatut kepada wartawan di SMPN 60 Surabaya, selasa (28/9/2021).

Gatut menjelaskan apa swab dilakukan dengan izin dari orang tua maka. Sebab, pembelajaran tatap muka terbatas dirasa aman, nyaman, tidak ada pengaruh-pengaruh yang membuat prasangka negatif untuk mengarah ke klaster COVID-19 di sekolah Surabaya.

Pelaksanaan PTM di SMPN 60 sendiri sebenarnya dimulai pada kemarin Senin (27/9). Akan tetapi ditunda, karena hari ini sampai Kamis (30/9) dilakukan tes PCR kepada siswa.

"Diagendakan swab untuk memastikan anak-anak bisa belajar dengan baik. Maka PTM dilakukan hari Jumat (1/10) dan minggu depannya. Hari ini yang mengikuti swab kelas 9 kurang lebih 300 siswa, kemudian besoknya kelas 8, hari Kamis (30/9) kelas 7. Kelas 9 (swab dulu) karena usianya 12 tahun ke atas," jelasnya.

Hari ini untuk kelas 9 yang dilakukan tes PCR ada sekitar 300 siswa. Jumlah siswa yang rencana dites PCR ada 965 dari 1.017 siswa.

"Untuk sekolah-sekolah baik negeri maupun swasta di Surabaya yang mendapat rekom penyelenggaraan PTM, maka ada jadwal yang diatur untuk penyelenggaraan swab dari Dinkes dan puskesmas setempat," ujar Gatut.

Gatut mengatakan sebenarnya dia dan Wali Kota Eri menginginkan 25% jumlah siswa yang menggelar PTM. Tetapi pihaknya tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan.

"Simulasi pertama 2 kelas dulu, isinya 15, 15 siswa. Simulasi sukses tidak ada gejolak COVID-19 dilanjutkan dengan PTM ditambah terus sampai 25%. Kalau 25% pak wali memberi instruksi sampai 50% sesuai dengan Inmendagri," pungkas Gatut.

(iwd/iwd)