Toko Buku Peneleh, Tertua di Surabaya dan Tempat Favorit Bung Karno

Esti Widiyana - detikNews
Sabtu, 11 Sep 2021 12:59 WIB
Peneleh, Surabaya seperti membawa pengunjung ke zaman sebelum kemerdekaan. Sebab, banyak bangunan lawas yang masih kokoh tak termakan usia.
Toko Buku Peneleh/Foto: Esti Widiyana/detikcom
Surabaya -

Peneleh, Surabaya seperti membawa pengunjung ke zaman sebelum kemerdekaan. Sebab, banyak bangunan lawas yang masih kokoh tak termakan usia, salah satunya Toko Buku Peneleh.

Toko yang ada di Jalan Peneleh Gang VII No 22 merupakan toko buku paling tua di Kota Pahlawan. Yang dibangun pada tahun 1880an. Toko ini berseberangan sekitar 10 meter dari Rumah Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto.

Ketika memasuki toko seluas 3x9 meter ini, masih ditemukan perabot dan ornamen yang orisinil dari bangunan bergaya kolonial klasik itu. Toko buku ini menjual buku-buku mengenai syariat Islam dan sejarah bangsa.

Manariknya, Toko Buku Peneleh ini merupakan toko buku favorit Presiden RI pertama Ir Soekarno. Sebab, jauh sebelum menjadi seorang presiden, Soekarno sempat jadi anak kos di rumah HOS Tjokroaminoto. Di situ Bung Karno belajar tentang nasionalisme dan pergerakan Islam.

Peneleh, Surabaya seperti membawa pengunjung ke zaman sebelum kemerdekaan. Sebab, banyak bangunan lawas yang masih kokoh tak termakan usia.Toko Buku Peneleh/ Foto: Esti Widiyana/detikcom

"Toko buku ini juga tempat favoritnya Bung Karno, karena beliau sekolah dekat sini dan ngekos di HOS Tjokro depan, berkunjung tahun 1956," kata karyawan Toko Buku Peneleh, Muhammad kepada detikcom, Sabtu (11/9/2021).

Sebagai bukti bahwa Bung Karno pernah berkunjung, di bagian atas dinding terpampang foto Ir Soekarno ke Toko Buku Peneleh tanggal 18 Desember 1956. Toko Buku Peneleh merupakan milik Abdul Latif Zein, salah satu orang di balik berkembangnya ajaran Muhammadiyah di Kota Pahlawan. Pada tahun 1920-an, toko buku ini jadi tempat percetakan sekaligus etalase memajang buku tentang agama Islam, fiqih dan syariah.

Salah satu buku yang pernah dicetak yaitu 'Kumpulan Khutbah Jumat' karya KH Mas Mansjoer. Ia seorang tokoh besar Muhammadiyah di era Pergerakan Nasional pada saat itu.