Cerita Mistis Tim SAR saat Evakuasi Kerangka di Hutan Lindung Banyuwangi

Ardian Fanani - detikNews
Senin, 06 Sep 2021 16:23 WIB
kerangka manusia yang ditemukan di hutan lindung dievakuasi
Saat tim melakukan evakuasi kerangka (Foto: Dok. Serda Muhammad Dedi Sunanto)
Banyuwangi - Evakuasi kerangka manusia yang ditemukan di hutan lindung milik Perhutani Wilayah Banyuwangi Barat rupanya menjadi pengalaman mistis tim gabungan. Mereka mengaku tersesat di dalam hutan selama satu hari.

Hal tersebut mengakibatkan operasi SAR yang semula direncanakan hanya 3 hari, akhirnya molor hingga 5 hari. Tak hanya medan terjal yang dilalui petugas gabungan TNI-Polri dan relawan. Mereka juga mendapatkan pengalaman mistis saat melakukan pencarian.

Pengalaman itu terjadi pada hari kelima, Minggu (6/9/2021), saat akan turun mengevakuasi kerangka mayat itu. Operasi SAR sebenarnya dilaksanakan sejak hari Rabu (1/9) dengan estimasi waktu sekitar 3 hari.

Namun, selama 3 hari di dalam hutan Tim Evakuasi tak kunjung menemukan lokasi kerangka. Mereka pun, akhirnya memutuskan kembali ke titik pemberangkatan dengan tangan kosong.

"Medan ekstrem berupa perbukitan dan jurang, serta lokasi di hutan belantara. Sehingga kita kesulitan mencari titik lokasi awal ditemukannya jenazah tersebut. Kita kembali ke tempat asal," ungka Serda Muhammad Dedi Sunanto, Babinsa Licin, yang turut melakukan operasi SAR, Senin (6/9/2021).

Pada hari Jumat (3/9/2021), tim kedua diberangkatkan untuk mengevakuasi korban. Total ada 9 personel yang terdiri dari TNI-Polri dan sejumlah relawan.

kerangka manusia yang ditemukan di hutan lindung dievakuasiFoto: Dok. Serda Muhammad Dedi Sunanto

Sama dengan Tim SAR pertama, Tim SAR kedua awalnya kesulitan mencari lokasi kerangka tersebut. Dua hari berada di hutan, Tim evakuasi tak juga menemukan titik koordinat lokasi ditemukannya kerangka tersebut.

Saat kondisi kelelahan dan logistik mulai menipis, kata Serda M Dedi, tim SAR gabungan menemukan petunjuk keberadaan kerangka tersebut. Sekitar satu kilo dari lokasi kerangka, terlihat dua ekor lalat hijau yang biasanya hinggap di jenazah atau bangkai.

"Lalat hijau ini seolah menuntun kita menuju jenazah. Dari situ kita berhasil menemukan lokasi kerangka yang berada di jurang, Minggu siang," cerita Dedi.

Tim SAR memutuskan segera mengevakuasi kerangka tersebut, mengingat logistik yang ada sudah menipis. Mereka mengevakuasi jenazah sekitar pukul 13.00 WIB.

Karena medan menuju titik pemberangkatan berupa perbukitan dan jurang, mereka memutuskan untuk melewati jalur menuju Dusun Plampang, Desa Bulusari, Kecamatan Kalipuro dengan estimasi waktu sekitar 6 jam.

Namun di pertengahan jalan, Tim Evakuasi kehilangan kontak dengan Tim Penjemput. Tak hanya itu, mereka juga sempat tersesat dan mengambil jalur yang lebih jauh dari jalur sebenarnya. Akibatnya, hingga malam tiba Tim Evakuasi masih terjebak di tengah hutan.

"Untuk berkomunikasi kita gunakan radio (handy talkie). Dari awal pemberangkatan hingga ditemukannya jenazah tidak ada gangguan. Namun saat kita hendak turun mengevakuasi jenazah, di tengah perjalanan radio tidak berfungsi," ungkapnya.

"Juga rute yang kita lewati tidak pada jalur semestinya. Harusnya kita hanya melalui satu aliran sungai. Namun, ada 4 sungai yang kita lewati kemarin. Jauh memutar dibandingkan rute sebenarnya," kata Dedi.

Tak hanya tersesat, Tim Evakuasi juga mengalami pengalaman mistis saat proses evakuasi kerangka tersebut. Di saat tak mengetahui arah menuju titik pertemuan, tiba-tiba mereka mendengar suara teriakan perempuan di tengah hutan.

Suara misterius itu membuat Tim Evakuasi diam sejenak. Mereka akhirnya memutuskan beristirahat sembari memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

"Iya. Ada jeritan perempuan. Semuanya, 9 orang dalam tim mendengar suara tersebut. Hal itu nampak seperti mistis. Akhirnya kita istirahat sejenak sembari berdoa. Karena misi ini adalah untuk kebaikan, untuk memakamkan jenazah secara layak, kami yakin pasti ada jalan," ceritanya.

Setelah beristirahat sejenak, tim evakuasi kembali melanjutkan perjalanan. Sekitar pukul 22.30 WIB, mereka akhirnya tiba di hutan bambu yang artinya sudah mulai mendekati perkampungan terdekat. Tak berselang lama, mereka tiba di perkampungan pinggir hutan dan bertemu dengan warga.

Telekomunikasi yang sempat terputus dengan tim penjemput juga bisa tersambung kembali. Hingga akhirnya, kerangka manusia tersebut berhasil dievakuasi dan dibawa ke ruang jenazah RSUD Blambangan untuk diidentifikasi.

"Alhamdulillah sekitar pukul 11 malam kita tiba di perkampungan. Di sana kita diberi makan, karena memang perbekalan sudah habis. Evakuasi berjalan lancar sampai dibawa ke RSUD Blambangan Banyuwangi," pungkasnya. (iwd/iwd)