Kata Pakar soal Dampak PPKM pada Perekonomian di Jatim

Hilda Meilisa Rinanda - detikNews
Selasa, 10 Agu 2021 20:08 WIB
Pemberlakuan PPKM Darurat diperpanjang. Meski begitu, Jokowi akan melonggarkan PPKM Darurat pada 26 Juli 2021 mendatang bila kasus COVID-19 di RI menurun.
Foto: Antara Foto
Surabaya -

Penerapan PPKM disebut berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Selain itu, adanya lonjakan kasus COVID-19 juga membuat daya beli masyarakat menurun.

Namun, dampak ekonomi akibat penerapan PPKM Darurat hingga Mikro baru bisa terlihat pada kuartal III tahun 2021, pada Bulan Juli hingga September. Seperti yang disampaikan Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Dr Wisnu Wibowo.

"Dampak lonjakan kasus COVID-19 yang diikuti dengan kebijakan pembatasan melalui PPKM Darurat dan PPKM Level terhadap perekonomian Jawa Timur baru akan terlihat pada kuartal III 2021," kata Wisnu saat dikonfirmasi detikcom di Surabaya, Selasa (10/8/2021).

Wisnu menyebut, kenaikan kasus biasanya akan menurunkan Indeks Penjualan Retail. Wisnu mencontohkan, hal ini pernah terjadi di sejumlah negara, seperti di Thailand. Menurut Wisnu, hal ini juga sempat terjadi di Indonesia.

"Sedangkan kasus-kasus yang terkendali akan mendorong peningkatan belanja masyarakat. Namun sebaliknya, jika terjadi peningkatan kasus maka akan mendorong masyarakat kembali menahan belanja," ungkapnya.

Selain itu, Wisnu juga menyoroti kenaikan kasus COVID-19 yang mulai terjadi pada Juni. Wisnu menyebut hal ini berpengaruh pada pemulihan ekonomi di Jatim yang sempat tumbuh, namun dikhawatirkan akan menurun.

"Kenaikan kasus COVID-19 yang mulai terjadi di Bulan Juni memoderasi perkembangan pemulihan ekonomi Jawa Timur. Dari sisi demand, peningkatan kasus COVID-19 di Jawa Timur akan menyebabkan permintaan yang lebih rendah," kata Wisnu.

"Konsumsi rumah tangga yang pada kuartal II menunjukkan pertumbuhan sebesar 2,13 persen yang meningkat dibanding kuartal I yang minus 2,18 persen, pada kuartal III berpotensi mengalami tekanan kembali," tambahnya.

Sedangkan dari sisi supply, PPKM Darurat dan PPKM Level dinilai Wisnu memukul kinerja dunia usaha. Ada sejumlah sektor industri yang mendapat dampak cukup berat.

"Dampak yang relatif berat akan dirasakan oleh sektor-sektor kunci perekonomian Jawa Timur. Terutama sektor industri pengolahan, perdagangan Besar dan Eceran. Di samping sektor penyediaan akomodasi makanan dan minuman serta jasa perusahaan," papar Wisnu.

Untuk mengantisipasi hal ini, Wisnu berpendapat komponen belanja pemerintah dan ekspor perlu lebih didorong. "Program bantuan sosial bagi kelompok masyarakat terdampak harus didorong percepatannya agar segera dapat berdampak riil bagi daya beli masyarakat. Demikian juga, berbagai kemudahan dan insentif bagi dunia perlu kembali ditingkatkan sembari mendorong penyaluran kredit perbankan dengan menjadikan bank-bank yang tergabung dalam Himbara sebagai motor penggeraknya," saran Wisnu.

"Melimpahnya dana pihak ketiga di perbankan akan dapat menjadi beban tersendiri bagi industri perbankan jika tidak segera diimbangi dengan akselerasi kredit," pungkasnya.

(sun/bdh)