Round-Up

'Mati Corona Ala Madura': Antara COVID-19, Thaun, dan Flu Spanyol

Tim detikcom - detikNews
Senin, 02 Agu 2021 09:11 WIB
Sebanyak 100-an massa mendatangi pos penyekatan Jembatan Suramadu subuh tadi. Mereka merusak pagar dan menuju pos penyekatan dan melempari petugas dengan petasan.
Penyekatan di Suramadu untuk warga tes antigen (Foto: Esti Widiyana)
Surabaya -

Viral sebuah cuitan di akun twitter @Antonius061 tentang 'Mati Corona Ala Madura'. Cuitan itu berisi tulisan dari Firman Syah Ali tentang kondisi warga Madura menghadapi Corona.

Dalam cuitan itu, diceritakan kondisi Pamekasan yang tampak normal dalam masa PPKM level 3. Padahal jumlah pasien COVID-19 tengah melonjak saat ini.

"Benar saya yang menulis, saat saya isoman beberapa waktu lalu di Pamekasan," ujar Firman Syah Ali kepada detikcom, Minggu (1/8/2021).

Firman yang juga Pengurus Harian LP Ma'arif NU Jatim itu menjelaskan alasan dirinya menuliskan mati Corona ala Madura karena kondisi di Pamekasan yang baik-baik saja. Seolah-olah warga tidak takut dengan COVID-19.

"Tidak hanya Pamekasan, Bangkalan, masih normal saja. Warga di sana percaya akan adanya COVID-19, namun mereka berusaha mungkin untuk tidak mendengar sebutan Corona, dan sejenisnya," ungkapnya.

"Bagi warga Madura, Corona itu ibarat setan. Semakin diingat atau diucapkan, malah bisa menakutkan. Karena warga Madura itu sangat percaya kepada Allah SWT, semakin diucapkan, seolah wirid'an. Jadi mending jangan diucap, dan diingat," sambungnya.

Firman yang juga keponakan Mahfud Md ini menyebut akhir-akhir ini ada imbauan dari Ketua DPRD Pamekasan agar tidak mengumumkan kematian warga melalui TOA masjid. Hal ini untuk menjaga kondisi psikis warga.

Firman menambahkan warga Madura juga belakangan ini teringat thaun. Yakni sebuah kepercayaan warga lokal, jika ada seseorang yang mengetuk pintu tengah malam, dan warga itu menjawab, maka ajal akan menjemput.

"Warga teringat thaun dan flu Spanyol. Karena thaun ini kepercayaan warga sejak dahulu. Dulu kan ada wabah flu Spanyol di Madura saat zaman penjajahan. Sampai sekarang, warga Madura percaya, kalau ada yang ngetuk tengah malam, atau memanggil namanya, tapi tidak ada orang, jangan menjawab atau membuka pintu," terang Firman.

"Dan saya saat isoman di Pamekasan mengalami hal serupa, saat di musala. Tiba-tiba ada yang panggil saya, kayak suara ibu saya, tapi saya toleh gak ada, ya tidak saya jawab, karena itu thaun," sambungnya.

Firman juga melihat banyak warga meninggal akibat COVID-19 di Pamekasan, namun masih dikuburkan oleh keluarga dan para tetangga. Minimnya edukasi dari pemerintah setempat menjadi satu alasan.

"Jangankan keluarga, tetangga juga ikut nguburkan. Warga sebenarnya percaya, tapi ya itu, jangan sampai COVID-19 itu ada di pikiran, semakin dipikir semakin diingat. Dan prokes warga juga kurang disiplin," tandas Firman.

Simak juga video 'Angka Kematian Tinggi Jadi Sorotan di Kebijakan PPKM Level 4':

[Gambas:Video 20detik]



Apa isi cuitan tersebut