Mati Corona Ala Madura, Satgas Jatim Sebut Edukasi COVID-19 Sangat Diperlukan

Esti Widiyana - detikNews
Minggu, 01 Agu 2021 17:30 WIB
Jubir Satgas COVID-19 Jatim Dr Makhyan Jibril
Jubir Satgas COVID-19 Jatim Dr Makhyan Jibril (Foto: Esti Widiyana)
Surabaya -

Viral sebuah cuitan di akun twitter @Antonius061 milik Firman Syah Ali tentang 'Mati Corona Ala Madura'. Dalam cuitannya, Firman menceritakan kondisi Pamekasan tampak normal dalam status PPKM level 3, padahal pandemi COVID-19 saat ini masih meningkat.

Cuitan itu pun ditanggapi oleh Satgas COVID-19 Jatim. Menurut satgas, cuitan yang ditulis Firman itu menggambarkan jika edukasi COVID-19 terhadap warga di Madura sangat diperlukan.

"Apa yang dituliskan mas Firman adalah gambaran dari betapa luar biasanya effort yang dibutuhkan untuk edukasi COVID-19. Khususnya pada masyarakat di Madura yang sedang mengalami pandemic fatique," kata Jubir Satgas COVID-19 Jatim Dr Makhyan Jibril kepada detikcom, Minggu (1/8/2021).

Menurut Jibril, kondisi tersebut seringkali terjadi action bias. Contohnya, berfikir dengan tidak menyebut Corona akan menghindarkan dirinya dari Corona.

"Ataupun confirmation bias, hanya memilih info-info yang mereka suka dan cenderung menghindari realita bahwa Corona sedang menghantui mereka. Padahal belum tentu info itu benar," ujar Jibril.

"Tulisan tersebut juga mengingatkan kita semua selain melawan pandemi, kita juga harus bekerja sama turun untuk melawan infodemi dan kurangnya literasi COVID-19 di Madura," tambahnya.

Jibril juga berkaca dari sejarah dan jurnal di population studies. Sebab, disebutkan bahwa diprediksi saat Spanish flu tahun 1918-1919, 23,71% populasi Madura meninggal saat pagebluk.

"Artinya memang ada faktor sosio kultural yang harus diperhatikan betul-betul dalam edukasi COVID-19 di Madura. Oleh karena itu, kami memohon untuk kiai, para keluarga maupun pimpinan di Madura untuk terus melakukan edukasi, pendekatan sosio kultural maupun percepatan vaksinasi di Madura. Karena ini sangat penting untuk menyelamatkan warga Madura dari pagebluk 'penyakit saat ini'," jelas Jibril.

Jibril mengatakan berdasarkan aplikasi Bersatu Lawan COVID-19 per 27 Juli, terlihat kepatuhan masyarakat Madura pada protokol kesehatan di bawah 50%. Berdasarkan aplikasi Bersatu Lawan COVID-19 pada rata-rata kepatuhan penggunaan masker di Madura, Bangkalan 40% Sampang di bawah 40%, Sumenep di bawah 30% dan Pamekasan di bawah 10%.

"Memang kepatuhan di Kabupaten, Kota di Madura fluktuatif, kadang dalam minggu tertentu bisa di atas 80%. Tapi juga sering dibawah 50%. Kemungkinan besar memang karena kalau ndak diawasi, ndak ada yang mengingatkan ya longgar lagi prokesnya," pungkas Jibril.

Simak juga 'Kasus Corona Dunia Naik 9% Dalam Seminggu Akibat Varian Delta':

[Gambas:Video 20detik]



(iwd/iwd)