Penulis Mati Corona Ala Madura: Warga Teringat Thaun dan Flu Spanyol

Faiq Azmi - detikNews
Minggu, 01 Agu 2021 13:34 WIB
Firman Syah Ali
Firman Syah Ali (Foto: Dok. pribadi)
Surabaya -

Viral sebuah cuitan di akun twitter @Antonius061 tentang 'Mati Corona Ala Madura'. Cuitan itu berisi tulisan dari Firman Syah Ali yang menceritakan kondisi Pamekasan tampak normal dalam status PPKM level 3, padahal pandemi COVID-19 tengah melonjak saat ini.

"Benar saya yang menulis, saat saya isoman beberapa waktu lalu di Pamekasan," ujar Firman Syah Ali kepada detikcom, Minggu (1/8/2021).

Firman menjelaskan warga di Pamekasan tetap menjalankan aktivitas normal selama PPKM level 3-4. Menurut Firman, banyak hajatan yang digelar warga di Pamekasan.

"Paling banyak itu hajatan luar biasa, ndak ada itu prokes juga, dan ya herannya gak ditegur. Meski begitu, warga itu sebenarnya percaya Corona, tapi gak mau sampai selalu dipikir," terangnya.

Firman yang juga keponakan Mahfud Md ini menyebut akhir-akhir ini ada imbauan dari Ketua DPRD Pamekasan agar tidak mengumumkan kematian warga melalui TOA masjid. Hal ini untuk menjaga kondisi psikis warga.

Firman menambahkan warga Madura juga belakangan ini teringat thaun. Yakni sebuah kepercayaan warga lokal, jika ada seseorang yang mengetuk pintu tengah malam, dan warga itu menjawab, maka ajal akan menjemput.

"Warga teringat thaun dan flu Spanyol. Karena thaun ini kepercayaan warga sejak dahulu. Dulu kan ada wabah flu Spanyol di Madura saat zaman penjajahan. Sampai sekarang, warga Madura percaya, kalau ada yang ngetuk tengah malam, atau memanggil namanya, tapi tidak ada orang, jangan menjawab atau membuka pintu," terang Firman.

"Dan saya saat isoman di Pamekasan mengalami hal serupa, saat di musala. Tiba-tiba ada yang panggil saya, kayak suara ibu saya, tapi saya toleh gak ada, ya tidak saya jawab, karena itu thaun," sambungnya.

Firman juga melihat banyak warga meninggal akibat COVID-19 di Pamekasan, namun masih dikuburkan oleh keluarga dan para tetangga. Minimnya edukasi dari pemerintah setempat menjadi satu alasan.

"Jangankan keluarga, tetangga juga ikut nguburkan. Warga sebenarnya percaya, tapi ya itu, jangan sampai COVID-19 itu ada di pikiran, semakin dipikir semakin diingat. Dan prokes warga juga kurang disiplin," tandas Firman.

Apa isi cuitan tersebut

Simak juga 'Jelang Akhir PPKM Level 4, Kasus Aktif Turun 15 Ribu Dalam Seminggu':

[Gambas:Video 20detik]