Bed Pasien COVID-19 di Surabaya Tersisa 500 dari Total 2.200

Esti Widiyana - detikNews
Jumat, 18 Jun 2021 18:25 WIB
Bed occupancy rate (BOR) atau tingkat keterisian bed RS rujukan pasien COVID-19 di Surabaya terus naik. Saat ini BOR sudah mencapai 75,9 persen.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya, Febria Rachmanita/Foto: Esti Widiyana/detikcom
Surabaya -

Bed occupancy rate (BOR) atau tingkat keterisian bed RS rujukan pasien COVID-19 di Surabaya terus naik. Saat ini BOR sudah mencapai 75,9 persen.

"BOR Surabaya yang selama ini sebelum tanggal 5 itu hanya 15 sampai 21 persen, saat ini sudah 75,9 persen," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya, Febria Rachmanita di penyekatan Suramadu sisi Surabaya, Jumat (18/6/2021).

"Kalau kita melihat memang jumlah tempat tidur Surabaya banyak, 2.200 sekian. Kita sudah terpakai 75 persen, sisanya kurang lebih ya 500an tempat tidur lagi," tambahnya.

Maka dari itu, lanjut ia yang akrab disapa Fenny, pihaknya waspada karena angka kasus COVID-19 cepat naiknya. Per hari bisa sekitar 15 persen naiknya. Maka ia meminta RS untuk mengkonversi bed dari non-COVID-19 menjadi bed COVID-19.

"Kita harus waspada. Saya sudah mengimbau kepada seluruh direktur RS, untuk melakukan konversi tempat tidur, dari yang tempat tidur non-COVID, menjadi untuk pasien COVID-19. Tapi ya tetap harus kita lihat bahwa kasus yang non-COVID pun banyak. Jadi saya berharap ini bisa segera teratasi dengan blok nakes," jelasnya.

Selain itu, ICU RS di Surabaya juga hampir penuh. Solusinya ialah dengan melakukan blocking area di wilayah yang memiliki kasus tinggi. Sebab, menurutnya virus Corona lebih cepat menyebar, terlebih varian baru.

"Sudah mulai penuh ICU, iya sudah 80 persen lah. Makanya harus kita lalukan blocking area, kalau kita terlambat melakukan blocking area itu pasti menyebar. Virus itu cepat banget nyebarnya, apalagi dengan jenis baru," lanjutnya.

Fenny menyebut, tenaga medis di Surabaya masih cukup meski ia tidak memungkiri ada yang lelah menangani pasien COVID-19. Dalam penanganan kasus COVID-19 perlu dukungan masyarakat dengan menaati protokol kesehatan.

"Kalau menurut teman-teman nakes ya capek memang, jenuh, sudah berapa tahun. Masyarakat gak boleh lengah, udah nomor satu prokes, tidak ada yang bisa. Kita divaksin itu salah satu upaya kita supaya tidak tertular, namun kalau tertular pun kita bisa lebih ringan jadi nggak sampai parah," pungkasnya.

(sun/bdh)