Cerita Tokoh Masyarakat soal Sulitnya Edukasi COVID-19 ke Warga Bangkalan

Esti Widiyana - detikNews
Rabu, 16 Jun 2021 13:57 WIB
Banyak warga di beberapa desa di Bangkalan mengalami gangguan pada indera penciuman. Ada juga yang batuk, pilek hingga demam tinggi.
Warga Bangkalan diberi masker/Foto: Istimewa
Bangkalan -

Banyak warga di beberapa desa di Bangkalan mengalami gangguan pada indera penciuman. Ada juga yang batuk, pilek hingga demam tinggi.

"Hampir merata di Desa Kampak Kecamatan Geger, Banyoneng Dajah, Bayoneng Laok semua Kecamatan Geger. Terus Desa Klapayan, Desa Sereh Kecamatan Sepuluh. Saya sendiri di Banyoneng Dajah itu hampir masyarakat semuanya sakit," kata Tokoh Masyarakat dan Aktivis Pemerhati COVID-19 di Bangkalan, Irham Lira kepada detikcom, Rabu (16/6/2021).

"Sakitnya rata-rata panas, demam tinggi, batuk, pilek, flu, radang tenggorokan. Tiap rumah itu, hampir semuanya mengalami itu. Otomatis gajala (COVID-19) mereka juga kehilangan indra penciuman dan pembauan," imbuhnya.

Irham mengaku tidak bisa memastikan apakah gejala tersebut dirasakan warga di semua desa di Bangkalan. Namun ia memastikan, banyak warga di 4 kecamatan yang menjadi episentrum COVID-19, yang merasakan sederet gejala tersebut. Yakni di Kecamatan Bangkalan, Arosbaya, Klampis dan Geger.

Menurutnya, biasanya gejala seperti itu tidak berlangsung lama, paling sekitar 3-5 hari saja. Namun kali ini sampai 10 hari.

"Sejak 10 hari ini lah. Gejala sudah menuju ke arah COVID, walau tidak ada tes massal ya nggak tahu. Yang pasti hampir semua merasakan gejala itu," papar Irham.

"Dulu sebelum ada COVID biasanya 3-5 hari sudah sembuh, sekarang ini nggak, dokter juga tutup, masyarakat tidak tahu harus bagaimana. Saya mengedukasi, saya suruh makan bawang putih, obat-obatan tradisional seperti mengkudu saya suruh jus, sereh, jahe," jelasnya.

Ia berinisiatif untuk mengedukasi masyarakat agar menerapkan protokol kesehatan dan pencegahannya. Namun saat mengedukasi masyarakat, ia justru harus menghadapi amarah warga yang kurang paham akan pandemi COVID-19.

"Nggak ada yang berani. Karena tokoh masyarakat di situ juga hati-hati dalam memberikan edukasi itu. Karena bisa jadi kita yang maksud kita baik, tapi tanggapan mereka masih tidak begitu paham tentang swab, kita malah nanti yang disalahkan. Saya juga perlu hati-hati ketika memberikan edukasi," ujarnya.

Simak Video: Mahfud Md Minta Kiai Yakinkan Warga Bangkalan Bahwa Covid-19 Ada

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2