Tercipta Klaster Pekerja Madura di Lamongan, 15 Orang Positif -1 Meninggal

Eko Sudjarwo - detikNews
Sabtu, 12 Jun 2021 18:43 WIB
Gapura Lamongan
Foto: Eko Sudjarwo
Lamongan -

Belum tuntas klaster hajatan di Desa Sidodowo, kini muncul klaster pekerja dari Madura di Lamongan. 15 Orang positif COVID-19 usai datang dari Madura untuk kerja.

Klaster pekerja yang mudik ke Lamongan dan terpapar COVID-19 itu terjadi di Dusun Kemlagi, Desa Bulumargi, Kecamatan Babat. Kepala desa setempat mengakui jika ada sebanyak 15 orang yang baru pulang dari Madura dipastikan positif COVID-19.

"Ada 15 warga yang dinyatakan positif hasil swab antigen dan saat ini sudah dirawat di RS Karangkembang Babat," kata Kepala Desa Bulumargi, Ismail saat dikonfirmasi wartawan, Sabtu (12/6/2021).

Dikatakan oleh Ismail, total warganya yang bekerja di Madura ada sebanyak 144 orang. Mereka rata-rata bekerja menjual pentol, bakso, dan juga warung makan. Ketika dikabarkan di Madura banyak yang terpapar COVID-19, kata Ismail, terhitung ada 58 orang yang pulang kampung hingga terakhir Jumat (11/6).

"Sebelum masuk desa atau pulang dari bekerja luar daerah kami wajibkan kepada mereka untuk tes swab antigen dulu," ujarnya.

Kalau ternyata ada yang positif, lanjut Ismail, maka desa mengharuskan warga yang bersangkutan untuk langsung ke rumah sakit. Kalau negatif, terang Ismail, maka tidak ada alasan bagi desa untuk melarang mereka pulang ke rumah.

"Sampai hari ini, diketahui baru ada 1 orang yang meninggal," imbuhnya.

Ismail bersama perangkat desa dan sejumlah tokoh masyarakat saat ini terus turun ke tengah-tengah masyarakat untuk memberikan pemahaman dan melakukan antisipasi jangan sampai klaster pekerja dari Madura ini meluas di desa mereka. Ia juga meminta warga yang ada di 5 dusun di desanya untuk jujur jika baru pulang dari bepergian dan merasakan sakit.

"Kami minta jujur. Kepada warga di 5 dusun Desa Bulumargi kami mohon untuk selalu menaati protokol kesehatan," tandasnya.

Ismail juga mengungkapkan, hingga kini belum sampai melangkah untuk melakukan lockdown terhadap dusun yang banyak warganya terpapar COVID-19 itu. Pihaknya, ungkap Ismail, masih melakukan langkah pengetatan dan koordinasi bersama Muspika, perangkat desa dan tokoh masyarakat untuk mencari solusi yang terbaik.

"Kami mempunya kewajiban melindungi warga dari penularan COVID-19," lanjutnya.

Sementara, imbas dari pengetatan yang dilakukan oleh desa terhadap salah satu dusun ini, sudah 6 hari siswa sekolah SD di desa ini diliburkan.

(iwd/iwd)