Urban Legend 2021

Tak Hanya Jadi Ikon Wisata, Sentono Gentong Pacitan Juga Tempat Laku Spiritual

Purwo Sumodiharjo - detikNews
Sabtu, 15 Mei 2021 13:13 WIB
Ikon Wisata, Sentono Gentong Pacitan
Sentono Gentong saat malam hari (Foto: Purwo Sumodiharjo/detikcom)
Pacitan -

Nama situs Sentono Gentong jadi salah satu ikon wisata Kota 1001 Gua. Destinasi di puncak bukit belahan barat Kota Pacitan itu wajib dikunjungi pelancong saat pelesir ke Kota kelahiran SBY.

Sentono Gentong berada di Desa Dadapan, Kecamatan Pringkuku. Hanya perlu 15 menit dari pusat Kota Pacitan ke arah barat. Akses menuju lokasi mudah dijangkau baik dengan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Landskap Kota Pacitan yang membentang menjadi sajian khas saat menginjakkan kaki di area parkir. Di ujung utara tampak pegunungan menghijau. Sedangkan di ujung selatan dibatasi Samudera Hindia yang membentang.

Di antara kawasan untuk wisata alam terdapat sebuah kompleks yang di pagar keliling. Luas lantai berlapis keramik sekitar 4 x 4 meter dengan bangunan mirip gubuk beratap ijuk. Lokasinya persis di ujung tebing.

Di tempat itulah konon terdapat tumbal yang diyakini mampu menopang keseimbangan Pulau Jawa. Pelatarannya juga percaya menjadi tempat sarasehan para roh suci pada hari-hari tertentu.

"Berdasarkan cerita, tiap tanggal 1 sampai 12 Maulid (ruh) para sesepuh baik dari Pacitan maupun dari (kerajaan) Mataram hadir untuk mengadakan sarasehan," kata Kepala Desa Dadapan Ismono berbincang dengan detikcom, Sabtu (15/5/2021).

Ismono menuturkan suatu ketika pernah ada wisatawan yang mengaku melihat banyak orang duduk di pelataran. Semua mengenakan jubah layaknya ulama atau kiai. Kesaksian itu pun lantas diceritakan kepada dirinya.

Pihak pengelola, Ismono memang sengaja merawat lokasi yang dianggap sakral tersebut. Cerita mistis seputar Sentono Gentong, diakuinya telah menjadi bumbu cerita turun temurun. Hal itu menurut Ismono justru menjadikan kawasan lebih terjaga.

Pengunjung yang datang pun memiliki beragam tujuan. Sebagian besar ingin menikmati indahnya panorama alam khas Kota Pacitan dari puncak ketinggian. Namun ada pula yang sengaja datang untuk kegiatan spiritual di kompleks yang di pagar keliling.

Dijelaskan Ismono, tak ada syarat khusus bagi mereka yang ingin berdoa di tempat tersebut. Prosesi maupun kelangkapan ritual diserahkan kepada masing-masing individu. Yang terpenting tidak mengganggu ketertiban serta tidak menyebabkan kerusakan situs.

"Ada yang bawa dupa, ada juga yang pakai minyak wangi, bahkan ada pula tanpa kelangkapan apapun. Yang penting doanya hanya kepada Allah SWT," tandasnya.

(fat/fat)