Cerita Sedih Pedagang Oleh-oleh Khas Probolinggo Dampak Larangan Mudik

M Rofiq - detikNews
Jumat, 14 Mei 2021 18:05 WIB
oleh-oleh khas probolinggo
Pedagang oleh-oleh khas Probolinggo merugi dampak larangan mudik (Foto: M Rofiq)
Probolinggo -

Larangan mudik berdampak pada penjualan oleh-oleh khas Probolinggo. Pedagang banyak yang lebih memilih menutup lapak dan kiosnya. Pedagang yang buka pun sepi dari pembeli.

Saat masuk ke Kota Probolinggo, tepatnya di jalan raya pantura, terlihat ramai dan banyak kendaraan pemudik parkir di pinggir jalan untuk mampir membeli oleh-oleh untuk sanak keluarganya di kampung halaman. Oleh-oleh khas Probolinggo antara lain tape, prol tape, kerupuk ikan, dan snack dari tulang ikan laut, dan lain-lain.

Namun pada H+1 lebaran ini, terlihat banyak kios pedagang oleh-oleh yang tutup. Sedangkan kios yang buka nampak sepi dari pembeli.

Suasana seperti ini, sudah 2 kali lebaran dirasakan pedagang oleh-oleh khas Probolinggo, bahkan tak sedikit yang bangkrut sejak adanya larangan mudik mulai tahun kemarin. Padahal pedagang seharusnya mendulang keuntungan di libur lebaran seperti ini.

Biasanya, di saat jelang dan sesudah lebaran, omzet pedagang oleh-oleh khas Probolinggo penghasilan perhari bisa tembus Rp 2-5 juta. Namun saat ini, mencari keuntungan Rp 100 ribu saja sulit,

Nurhasan, salah satu pedagang oleh-oleh khas Probolinggo mengeluhkan jualan yang sepi di saat seharusnya ia panen cuan. Yang ia rasakan adalah kerugian akibat biaya operasional dan banyak makanan tidak laku diretur ke salesnya.

"Sebelumnya ramai sekali. Kalau sekarang karena larangan mudik, pembeli menurun drastis," keluh Nurhasan kepada detikcom, Jumat (14/5/2021).

Dampak larangan mudik juga dirasakan, Sulistyaningsih, pedagang yang lain. Adanya tol Paspro (Pasuruan-Probolinggo) saja sudah mengurangi omzetnya pembeli, terlebih ada kebijakan larangan mudik makin menambah parah sepinya pembeli.

"Bayangkan semalam kemarin, banyak kendaraan nggak mampir. Yang mampir hanya truk, itu pun hanya beli minuman ringan dan air mineral. Sepi banget. Kemarin hanya dapat uang Rp 50 ribu. Itu pun hanya laku minuman saja. Banyak makanan tidak terjual dan kita retur. Dan sales juga sudah jarang datang karena pedagang tidak ambil stok makanan karena sepi," kata Sulityaningsih.

(iwd/iwd)