Analisa Penyebab Hilangnya KRI Nanggala-402 Menurut Mantan Kepala Kamar Mesin

Faiq Azmi - detikNews
Jumat, 23 Apr 2021 16:29 WIB
Mantan KKM KRI Nanggala-402 Laksamana TNI (purn) Frans Wuwung
Mantan KKM KRI Nanggala-402 Laksamana TNI (purn) Frans Wuwung (Foto: Faiq Azmi)
Surabaya -

Mantan Kepala Kamar Mesin (KKM) kapal selam KRI Nanggala-402 Laksamana TNI (purn) Frans Wuwung blak-blakan terkait hilangnya KRI Nanggala-402. Dugaannya, penyebab hilangnya KRI Nanggala-402 karena konverter rusak.

"Saya jadi KKM KRI Nanggala-402 kira-kira tahun 1985. Analisa saya bahwa yang namanya blackout berarti power loss, peralatan tidak bisa digerakkan dan kemudi pada kedudukan menyelam. Motor sudah berhenti, tetapi sudah menuju turun. Dan barangkali ABK ada something terlalu lama mencari penyebab blackout itu. Analisa saya konverternya ada gangguan," ujar Frans saat ditemui wartawan di kediamannya, Jumat (23/4/2021).

Frans menjelaskan kegunaan konverter sendiri untuk mengubah arus DC ke AC. Karena, power yang dihasilkan baterai di kapal selam tersebut DC.

"Kapal selam kalau blackout, powernya dari baterai, arusnya DC searah. Untuk peralatan di kapal selam ini memerlukan arus AC, harus ada konverter untuk mengubah arus ke AC. Kalau blackout tidak ada komunikasi, tidak ada power, berarti dari baterai tidak nyampai ke peralatan. Apakah itu alat komunikasi segalanya tidak nyampai. Karena alat ini membutuhkan arus listrik AC, berarti konverternya trouble dengan teknis ya ini," terangnya.

"Pengalaman saya pernah blackout dan kapal dalam posisi menuju ke kedalaman, kalau menyelam KKM itu boleh istirahat dan kita serahkan ke kemudi selam. Nah saat turun saya pernah blackout. Di kapal selam kita itu ada lampu darurat, yang di dekat kita bisa kita on-kan dengan baterai khusus. Begitu blackout bisa kita nyalakan. Nah saat blackout, antisipasi kita adalah biasanya kita mencari saklar yang jatuh (turun) karena automatic. Mungkin mereka cari saklar tidak ketemu dalam posisi kapal ke bawah. Kalau kita bisa cari lagi (saklarnya) dan bisa nyalakan lagi (normal lagi). Saya khawatir saat blackout itu panik, apalagi waktunya pagi (menyelam)," lanjut Frans.

Frans membantah jika KRI Nanggala-402 disebut sudah tua hingga tidak siap saat berlayar. Kabar itu ditegaskannya tidak betul.

"Terus terang saya sakit hati di televisi disiarkan kok aneh-aneh itu tidak sesuai. Padahal kapal selam ini mau berlayar harus siap. Begini, ada pernyataan yang menyatakan kemungkinan kapal ini sudah tua. Terus pemeliharaannya mungkin kurang. Nah itu yang saya jengkel," katanya.

Frans mengatakan sebelum menyelam, kapal dan seluruh kru harus dipastikan perfect.

"Saya beritahukan, kapal selam itu sebelum dia berlayar, itu dia harus siap secara teknis dan kemampuan anak buah siap untuk mengoperasikan kapal itu," ungkap Frans.

Sebelum menyelam, kata Frans, kapal selam juga mengikuti empat tahapan latihan. Frans mengatakan kapal selam hilang kontak saat tengah melakukan latihan keempat.

"Di AL ada istilahnya latihan 1 sampai 4. Latihan 1 bagaimana mengecek peralatannya, bagaimana anak buah mengoperasikan peralatannya. Nah L4 itu yang akan dilaksanakan oleh KRI Nanggala ini latihan penembakan torpedo itu L4. Nah kalau mau masuk L4, apa lagi sudah berlayar ke sana, itu sudah melewati L1, L2 sampai L3," papar Frans.

(iwd/iwd)