Dam Kali Kawat Banyuwangi Kembali Airi Sawah Setelah Mangkrak 20 Tahun

Ardian Fanani - detikNews
Jumat, 26 Mar 2021 19:12 WIB
dam kali kawat
Dam Kali Kawat (Foto: Ardian Fanani)
Banyuwangi -

Warga Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi akhirnya bisa menanami sawahnya sepanjang tahun. Hal ini seiring dengan berfungsinya kembali Dam Kali Kawat di Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran, setelah mangkrak selama 20 tahun.

Normalisasi dam yang dibiayai dari Corporate Social Responsibility (CSR) PT Bumi Suksesindo (BSI), operator tambang emas di Pulau Jawa ini, bisa mengairi 243 hektare sawah warga.

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas melakukan peninjauan di Dam Kali Kawat, Jumat (26/3/2021). Dalam tinjau lapang itu, Bupati Ipuk bersama dengan perwakilan masyarakat dan Senior Manager External Affairs PT BSI, Sudarmono, melakukan penanaman ratusan pohon alpukat dan menebar bibit ikan.

"Saya mengucapkan terima kasih kepada PT BSI yang tanggap atas aspirasi masyarakat. Alhamdulillah, sekarang masyarakat bisa mendapatkan manfaat langsung," kata Bupati Ipuk Fiestiandani.

Menurut Ipuk, dulu, ketika dam masih mangkrak, petani hanya mengandalkan hujan untuk mengairi sawah mereka. Akibatnya, hasilnya kurang optimal, hanya setengah dari sawah normal. Hujan yang diandalkan juga bisa menjadi sumber masalah ketika debitnya berlebihan karena menyebabkan sawah kebanjiran. Dengan berfungsinya dam, aliran air bisa diatur sesuai kebutuhan.

"Tentu dengan kontribusi dari stakeholder terkait ini bisa mengoptimalkan kegiatan masyarakat. Petani bisa tersenyum dengan adanya peningkatan hasil panen karena bisa menanam sepanjang tahun," pungkasnya.

Dua bulan setelah pengerukan pertama yang dilakukan 27 Juli 2020, petani sudah merasakan manfaat. Pada akhir 2020, petani sudah menanam normal meski pada waktu itu belum banyak hujan turun. Awal Maret 2021, petani sudah berhasil memanen padi mereka.

Dam Kali Kawat sendiri dirintis pembangunannya pada 1968 oleh seseorang bernama Maji. Kala itu, kerangka bangunan masih terbuat dari kayu. Bangunan tersebut mampu bertahan hingga sepuluh tahun. Pada 1978, pemerintah mengganti bangunan dam dengan material beton dan bertahan sampai saat ini.

Namun seiring waktu, sampah, batuan, dan sedimen yang terbawa arus sungai dari hulu semakin lama semakin banyak memenuhi cekungan dam. Akibatnya, debit air yang semula mencapai 600 ribu meter kubik berkurang drastis. Selama dua puluh tahun terakhir, dam ini praktis mangkrak.

Pada pertengahan 2020, Kepala Desa Sarongan Gunoto meneruskan permintaan warga agar PT BSI membantu menormalisasi dam. BSI menyambut ajakan ini. Setelah beberapa perizinan dibereskan (karena lokasi dam berada di dalam kawasan agar alam Meru Betiri), pada 27 Juli 2020 alat berat mulai mengeruk material yang menutupi dam.

Senior Manager External Affairs PT BSI, Sudarmono mengatakan, dengan aliran air dari dam, petani saat ini bisa menanam setahun tiga kali. Mereka sebelumnya hanya sekali menanami sawah mereka.

"Dengan hitungan konservatif, dari 243 hektare, setidaknya tahun ini petani Dusun Krajan bisa menghasilkan sekitar 4.400 ton dari sawah mereka," kata Sudarmono.

Masyarakat Desa Sarongan berterima kasih kepada pemerintah daerah dan PT BSI yang telah melakukan normalisasi dan Kali Kawat. Mereka mengaku sangat terbantu dengan aliran air dari dam.

"Dulu betul-betul tergantung hujan, sekarang sudah normal. Sekarang kami lebih bersemangat ke sawah," kata salah satu petani, Wisnatun.

(iwd/iwd)