Ini Alasan di Balik Laporan Polisi Soal Pembangunan Masjid Gegara Tanah Wakaf

Enggran Eko Budianto - detikNews
Jumat, 19 Mar 2021 23:02 WIB
pembangunan masjid di jombang
Sampurno menunjukkan patok batas tanah milik bapaknya (Foto: Enggran Eko Budianto)

"Itu menusuk perasaan orang tua saya. Kami dituding menempati tanah wakaf sehingga mendapatkan untung luar biasa secara finansial. Padahal, itu lahan orang tua sendiri, beli dari Pak Tajid tahun 1980," terangnya.

Oleh sebab itu, lanjut Sampurno, bapaknya memutuskan menempuh jalur hukum. Suwaji membuat pengaduan masyarakat (dumas) ke Polres Jombang pada Rabu (27/1). Dia melaporkan panitia pembangunan Masjid Al Hidayah terkait dugaan penyerobotan tanah miliknya.

"Keluarga kami sudah siap dengan sanksi sosial. Karena kami sudah dilecehkan, direndahkan dan diremehkan," tegasnya.

Selain itu, kata Sampurno, pihaknya juga mengajukan pengukuran ulang ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) pada Kamis (28/1). Petugas BPN bersama Polres Jombang turun melakukan pengukuran ulang pada Jumat (5/2).

"Akhirnya bisa kita lihat sendiri tanah bapak saya kurang lebih 84 meter persegi yang masuk atau dijadikan bangunan oleh panitia tanpa izin kami," tegasnya.

Melalui proses hukum ini, Sampurno berharap ada putusan pengadilan terkait kepemilikan tanah tersebut. Ia menegaskan, keluarganya tidak berniat membongkar bangunan masjid meski terbukti tanah bapaknya telah diserobot panitia.

"Kalau sudah ada putusan pengadilan, pembangunan tetap dilanjutkan. Kami sadar ini tempat ibadah yang akan menjadi amal jariyah orang tua saya. Tak ada niat sedikit pun membongkar," tandasnya.

Kasus ini sedang ditangani Unit Pidana Umum Satreskrim Polres Jombang. Polisi telah menggali keterangan dari semua pihak yang berkaitan. Namun, petugas masih berupaya melakukan mediasi.


(iwd/iwd)