Terdampak COVID-19, Angka Kemiskinan Jatim Naik 11%

Adhar Muttaqien - detikNews
Kamis, 04 Mar 2021 20:39 WIB
gubernur khofifah
Gubernur Khofifah (Foto: Adhar Muttaqien)
Trenggalek -

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengklaim pandemi COVID-19 turut menyumbang peningkatan angka kemiskinan di wilayahnya. Angka kemiskinan selama pandemi tembus 11,62 persen

Gubernur Khofifah saat di Trenggalek, mengatakan peningkatan angka kemiskinan terjadi merata di seluruh daerah Jawa Timur..

"Jawa Timur terjadi kenaikan angka kemiskinan akibat pandemi COVID-19. Tahun 2019 sudah 10,98 persen, tahun 2020 naik lagi 11,62 persen, Saya ingin sampaikan bahwa ini terjadi di semua daerah," kata Khofifah saat sambutan di acara serah terima jabatan Bupati Trenggalek, Kamis (4/3/2021).

Menurut Khofifah angka peningkatan angka kemiskinan itu juga terjadi di wilayah Trenggalek, bahkan persentasenya saat ini berada di atas rata-rat Provinsi Jawa Timur.

"(Trenggalek) kebetulan sedikit di atas rata-rata provinsi, tetapi dengan ikhtiar secara inklusif oleh Pak Bupati, mudah-mudahan akan menggerakkan ekonomi yang lebih siginifikan pada kesejahteraan masyarakat Trenggalek," jelasnya.

Gubernur menjelaskan pandemi Corona juga berdampak terhadap perekonomian di wilayahnya. Untuk itu dibutuhkan kerja keras bersama untuk menyelamatkan perekonomian di masa pandemi.

Menurut Khofifah, salah satu backbone pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur adalah sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang mencapai 56,94 persen. Dengan fakta itu, maka UMKM dinilai layak untuk mendapatkan pengawalan dari pemerintah daerah, salah satunya melalui pariwisata.

"Maka seperti yang tadi disampaikan Pak Bupati Trenggalek, jika wisata ini gerak UMKM sudah pasti akan gerak," katanya.

Gubernur Khofifah menambahkan penyelamatan ekonomi juga bisa dilakukan melalui intervensi konsumsi masyarakat, sebab dari data PDRB Jawa Timur 60,82 persen adalah konsumsi masyarakat, terutama konsumsi rumah tangga.

Kontribusi konsumsi rumah tangga sendiri, dalam pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur mencapai 4,8 persen, sedangkan nasional 4,3 persen.

"Tinggi sekali, kalau konsumsi rumah tangga mengalami pelemahan maka pertumbuhan ekonomi juga mengalami pelemahan," ujar Gubernur Khofifah.

"Artinya apa, ketika dana PKH cepat cair, ketika bansos, BPNT cepat cair maka akan terjadi purchasing power yang bagus di lini paling bawah," jelasnya.

Lihat juga Video: RS di Jabodetabek- Jatim Penuh, 6 Pasien Covid-19 Meninggal di Perjalanan

[Gambas:Video 20detik]



(iwd/iwd)