Nasib Tim Pemakaman COVID-19 Kota Mojokerto Belum Dibayar Saat Setahun Corona

Enggran Eko Budianto - detikNews
Selasa, 02 Mar 2021 16:50 WIB
tim pemakaman korban COVID-19 di Kota Mojokerto
Tim pemakaman COVID-19 di Kota Mojokerto (Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom)
Mojokerto -

Tidak hanya risiko kesehatan, tim pemakaman korban COVID-19 juga harus siap bekerja pagi hingga tengah malam. Apalagi selama setahun Corona, jumlah pasien COVID-19 yang meninggal terus bertambah. Nasib mereka tak kunjung menerima honor selama dua bulan terakhir ini bikin nyesek.

Itulah yang dialami tim pemakaman jenazah pasien COVID-19 di Kota Mojokerto. Salah seorang anggota tim tersebut, Sentot Wibowo (45) mengaku belum menerima honor sejak 1 Januari sampai 1 Maret 2021.

"Yang belum dibayar honor untuk kurang lebih 91 kali pemakaman mulai 1 Januari 2021 sampai kemarin malam," kata pria asal Desa Ngingasrembyong, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto ini kepada detikcom, Selasa (2/3/2021).

Sentot selama ini tergabung dalam Relawan Birunya Cinta (RBC). Dia dikukuhkan menjadi anggota tim pemakaman korban COVID-19 oleh Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari sejak 6 April 2020. Berdasarkan SK Wali Kota Mojokerto nomor 188.45/192/417.111/2020, honor yang diterima setiap anggota tim pemakaman Rp 200.000 untuk sekali memakamkan jenazah pasien COVID-19.

Sampai hari ini, Sentot mengaku belum menerima salinan SK Wali Kota yang baru. Hanya saja berdasarkan hasil rapat bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Mojokerto pertengahan Januari 2021, menurut dia honor tim pemakaman tetap Rp 200.000.

"Kalau ditotal honor saya yang belum dibayar kurang lebih Rp 18,2 juta. Dua kali saya tanyakan ke koordinator lapangan tim pemakaman, namanya Bu Luluk orang Dinkes, katanya dananya belum keluar," terangnya.

Ia menjelaskan, sepanjang 2020, pembayaran honor untuk tim pemakaman di Kota Mojokerto tergolong lancar. Bersama 9 rekannya, rata-rata Sentot memakamkan 2-3 korban COVID-19.

"Paling banyak 7 kali pemakaman. Yaitu mulai jam 8 pagi tanggal 31 Desember 2020 sampai jam 3 sore tanggal 1 Januari 2021 baru pulang. Tidak terus menerus, ada jeda satu jam menunggu jenazah datang," ungkapnya.

Meski belum menerima upah selama dua bulan terakhir, Sentot tetap bersemangat melaksanakan tanggung jawabnya. Dia harus siap jika setiap saat diminta memakamkan jenazah pasien COVID-19. Tak jarang pemakaman dia lakukan pada tengah malam sampai dini hari.

"Dukanya itu enak-enak istirahat harus berangkat, tidak peduli kondisi hujan. Jam segitu waktunya istirahat pasti lelah. Namanya tanggung jawab harus tetap berangkat," cetusnya.

Belum lagi risiko kesehatan bagi dirinya. Sebagai tim pemakaman, Sentot dan kawan-kawan tentu saja rentan terinfeksi virus Corona. Oleh sebab itu, dia selalu memakai baju hazmat, sepatu bot, sarung tangan, masker dan helm face shield yang disediakan Dinkes Kota Mojokerto.