Kesaksian Warga soal Penangkapan Terduga Teroris di Mojokerto

Enggran Eko Budianto - detikNews
Jumat, 26 Feb 2021 21:53 WIB
Terduga teroris, ME (40), diringkus Densus 88 Antiteror saat berjalan ke masjid untuk salat Jumat. Pria yang sehari-hari berjualan parfum ini ditangkap tanpa perlawanan.
Lokasi penangkapan terduga teroris di Mojokerto/Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom
Mojokerto -

Terduga teroris, ME (40), diringkus Densus 88 Antiteror saat berjalan ke masjid untuk salat Jumat. Pria yang sehari-hari berjualan parfum ini ditangkap tanpa perlawanan.

Sutarno (63), warga Dusun/Desa Jabon, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto menjadi saksi mata penangkapan ME. Menurut dia, ME diringkus sekitar pukul 11.30 WIB.

"Dia berangkat ke masjid sama-sama saya, tapi saya tidak kenal, hanya tahu kalau dia orang kos-kosan. Dia pakai sarung, baju koko, kopiyah dan masker. Dia jalan kaki sendirian di depan saya," kata Sutarno kepada detikcom di lokasi penangkapan, Jumat (26/2/2021).

ME tinggal di kamar nomor 1, rumah kos di Dusun Jabon RT 13 RW 04 sejak sekitar satu bulan yang lalu. Menurut Sutarno, saat ditangkap Densus 88 Antiteror, ME berjalan di depannya. Saat itu, dia juga akan salat Jumat.

Sampai di jalan lingkungan RT 12 RW 04 Dusun Jabon, sekitar 50 meter di sebelah utara tempat kosnya, ME dihentikan dua polisi berpakaian preman. Polisi itu sempat bertanya sesuatu kepada ME. Saat itu, Sutarno sekitar 4 meter di belang ME. Sehingga menyaksikan langsung penangkapan terduga teroris tersebut.

"Saya kira cuma ditanyai alamat orang. Kemudian dia dirangkul, tapi agak melawan. Lalu ditengkurapkan di jalan dan diborgol," terangnya.

Selanjutnya, kata Sutarno, polisi berpakaian preman lainnya turun dari mobil warna hitam yang sudah menunggu di pertigaan, sekitar 10 meter di sebelah utara dari lokasi penangkapan. Ada juga petugas yang datang mengendarai beberapa motor dan sebuah mobil warna silver.

Menurut dia, mobil warna silver tersebut ikut membuntuti ME. Terduga teroris itu langsung dimasukkan tim Densus 88 ke mobil warna hitam.

"Yang nangkap dua orang, tapi temannya banyak. Mereka pakaian preman semua. Ada yang kausan dan celana panjang, ada yang celana pendek," ungkapnya.

ME langsung dibawa petugas meninggalkan Dusun Jabon dengan mobil warna hitam. Sebagian tim dari Densus 88 Antiteror menggeledah kamar kos ME.

Tetangga kos ME, Dimas Gafrila (30) mengaku diminta polisi menyaksikan penggeledahan kedua sekitar pukul 12.30 WIB. Dia membenarkan ME tidak dibawa ke kamar kos nomor 1 tersebut saat penggeledahan berlangsung.

"Hanya polisi yang menggeledah. Pintu kamarnya dibukakan anak ibu kos. (Yang disita) Buku-buku bacaan dan paket yang belum dikirim, polisi tidak berani buka," jelasnya.

ME diketahui berasal dari Sinoman, Kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Dia mempunyai rumah di Dusun Kebogerang, Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, Mojokerto. Di rumah inilah dia tinggal bersama anak dan istrinya sejak sekitar 2 tahun yang lalu.

Tim dari Densus 88 Antiteror juga menggeledah rumah terduga teroris tersebut sekitar pukul 14.00 WIB. Salah seorang yang diajak dalam penggeledahan adalah Kepala Dusun Kebogerang, Suratno (52).

"Yang menggeledah lebih dari 10 polisi. Saat penggeledahan, istri dan anak ME ada di rumah. Istrinya pakai cadar. Kalau anaknya laki-laki kelas 8 SMP," tuturnya.

Sayangnya, Suratno tidak mengetahui persis apa saja yang disita polisi dari rumah ME. "Masalahnya kaki saya sakit sehingga tidak kuat berdiri lama. Jadi, mohon maaf saya tidak tahu apa saja yang disita," tambahnya.

ME masih tercatat sebagai warga Sinoman, Kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. "Sampai sekarang KTP-nya masih Kota Mojokerto. Beberapa kali kami minta pindah kependudukan alasannya ada saja," kata Suratno.

Menurutnya, istri ME juga tercatat sebagai pendatang di Dusun Kebogerang. Sang istri mengajar di sebuah SMA di Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. Suratno tidak mengetahui persis berapa anak ME. Yang dia tahu, terduga teroris ini mempunyai seorang anak laki-laki kelas 8 SMP. "Pekerjaannya saya juga tidak tahu," ujarnya.

Suratno tidak menyangka ME menjadi terduga teroris sampai-sampai harus berurusan dengan Densus 88 Antiteror. Karena ME pandai bergaul dengan masyarakat Kebogerang. Menurut dia, tidak pernah ada yang aneh dalam materi obrolan ME.

"Kalau malam dia pulang kerja ketemu orang-orang jaga di pos kamling selalu mampir, membelikan rokok. Kemudian ngobrol dan nongkrong sebentar, lalu pulang," terangnya.

Tidak hanya itu, lanjut Suratno, ME juga aktif mengikuti kegiatan keagamaan di Dusun Kebogerang. Selama satu bulan terakhir, ME terkadang tinggal di rumah kos Dusun/Desa Jabon, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. Dia biasa pulang ke tempat kos tersebut pada malam hari.

"Seringnya malam ada di kos. Kadang dua hari sekali datang ke sini," jelas tetangga kos ME, Dimas Gafrila (30).

Ia mengaku belum pernah sekali pun ngobrol dengan ME. Karena terduga teroris itu selalu di dalam kamar saat datang ke tempat kosnya. Dimas hanya berjumpa dengan ME saat salat di musala dekat rumah kos.

ME diciduk tim dari Densus 88 Antiteror siang tadi sekitar pukul 11.30 WIB. Saat ditangkap, ME berjalan kaki dari tempat kosnya menuju ke masjid di Dusun Jabon untuk salat Jumat.

Selain itu, polisi juga menggeledah kamar kos dan rumah ME. Dari kamar kos terduga teroris itu, petugas menyita sebuah laptop, monitor komputer, kartu ATM, kartu memori, ponsel dan flashdisk. Sedangkan hasil penggeledahan di rumah ME belum dirilis polisi.

(sun/bdh)