Begini Cara Membedakan Gejala DBD dengan COVID-19 Serta Penyakit Lain

Esti Widiyana - detikNews
Senin, 08 Feb 2021 08:54 WIB
Foto kolase dari ilustrasi masker dan vaksin pfizer
Foto: AP Photo
Surabaya -

Demam berdarah dengue (DBD) salah satu penyakit yang datang saat musim tertentu di Indonesia. Tepatnya saat musim hujan seperti ini. Terlebih lagi saat pandemi COVID-19, segala penyakit bisa menjadi salah satu gejalanya.

Lalu, bagaimana mengetahui gejala DBD dan apa yang membedakan gejala tersebut dengan penyakit lain?

"Gejala khas dari DBD adalah demam bifasik. Demam bifasik, deman yang timbul kembali. Demam ini biasanya tiba-tiba datang, kemudian setelah 3 atau 4 hari panasnya turun, setelah beberapa hari panasnya berkurang atau stabil, kemudian naik lagi demamnya. Kenaikan suhu yang kedua ini kita bilang bifasik khas dari DBD dan saat suhu naik trombosit juga ikut turun," kata dr Heru Wijono SpPD, dokter yang bertugas di RS Husada Utama (RSHU), Senin (8/2/2021).

Adapun gejala lain selain demam yakni nyeri tenggorokan, mual, sering buang air besar, nyeri perut, sakit kepala. Akan tetapi gejala-gejala ini tidak khas. Gejala paling khas hanya deman bifasik atau demam tinggi lalu turun seperti pelana kuda.

Selain deman bifasik, gejala khas lainnya yang membedakan DBD dengan virus lainnya adalah munculnya bercak-bercak merah kecil. Seperti pada permukaan lengan bagian bawah saat dilakukan pemeriksaan rumpel leed.

"Pemeriksaan rumpel leed bisa dilakukan oleh dokter keluarga atau di puskesmas. Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengukur tekanan darah pasien, lalu pada bagian lengan bawah ditekan dengan manset dibiarkan 5 menit dan dilihat apakah muncul becak merah kecil. Kalau muncul berarti positif DBD dan harus segera melakukan pengecekan trombosit," jelasnya.

Lalu, untuk perbedaan bintik DBD dengan campak yakni bintik DBD saat ditekan dengan jari tidak akan hilang, karena bukan pelebaran pembuluh darah. Jika bintik tersebut adalah sel-sel darah yang merembes keluar dari pembuluh darah.

Menurutnya, saat pandemi untuk benar-benar membedakan gejala DBD atau gejala COVID-19 atau penyakit lainnya harus melakukan pemeriksaan laboratorium. Dengan rongten hingga swab PCR.

Heru terus mengingatkan masyarakat, untuk senatiasa menerapkan 3M. Mengurus tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, dan mengubur barang bekas.

"Sampai saat ini 3M pencegahan DBD masih dirasa sangat efektif," pungkasnya.

(fat/fat)