Meski Saringan Air Dibersihkan, Ratusan Rumah di Mojokerto Masih Kebanjiran

Enggran Eko Budianto - detikNews
Jumat, 08 Jan 2021 16:35 WIB
banjir di mojokerto
Banjir merendam rumah warga Desa Tempuran (Foto: Enggran Eko Budianto)
Mojokerto - Saringan sampah di Dam Siphon Sungai Avour Watudakon dituding menjadi penyebab banjir di Desa Tempuran, Kecamatan Sooko, Mojokerto. Namun setelah penyaring sampah tersebut dibersihkan, banjir masih saja merendam ratusan rumah penduduk.

Banjir di Desa Tempuran terjadi sejak malam tahun baru, Jumat (31/12). Banjir sempat surut pada Rabu (6/1). Hujan deras dua malam, 6-7 Januari 2021, membuat banjir kembali terjadi.

"Banjir kembali datang kemarin malam sekitar jam 8 (Kamis 7 Januari). Ketinggian air di dalam rumah saya selutut," kata Sukiman (71), warga Dusun/Desa Tempuran saat berbincang dengan detikcom, Jumat (8/1/2021).

Bersama istrinya, Kariyati (60), Sukiman memilih bertahan di tengah kepungan banjir. Pasangan lanjut usia ini tidur di ranjang yang diganjal tumpukan bata merah agar tidak tenggelam.

"Untuk makan dapat kiriman dari desa nasi bungkus pagi dan sore. Saya sudah tiga hari tidak mandi. Hanya cuci muka pakai air hujan yang saya tampung dengan timba (ember)," terangnya.

Lain halnya dengan Lasiyo (75), warga Dusun Tempuran. Dia memilih mengungsi ke rumah saudaranya karena ketinggian banjir di tempat tinggalnya sepinggang orang dewasa.

"Harapan kami banjir segera diatasi," cetusnya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto merilis, terdapat 272 rumah penduduk di Desa Tempuran yang saat ini terendam banjir. Terdiri dari 31 rumah di Dusun Tempuran dan 241 rumah di Dusun Bekucuk.

Banjir juga merendam 10 hektare lahan pertanian dan fasilitas umum. Yaitu kantor Desa Tempuran, SDN Tempuran, gereja, serta halaman masjid.

Kepala Desa Tempuran Slamet menyebut, banjir terjadi karena meluapnya Avour Watudakon dan Jombok. Menurut dia, terdapat beberapa titik pada aliran Avour Watudakon yang perlu ditinggikan tanggulnya. Selain itu, saringan sampah di Dam Siphon menghambat laju air.

"Penyebab lainnya terjadi penyumbatan sampah di Dam Siphon. Karena ada saringan sampah yang lubangnya kecil-kecil mengakibatkan sampah tersangkut lalu menghambat laju air," ungkapnya.

Siang ini, saringan sampah di Dam Siphon sudah bersih dari sampah. Aliran Avour Watudakon juga nampak normal. Sungai yang juga mengalir di wilayah Jombang itu telah dinormalisasi sehingga nampak lebih lebar dan dalam. Namun, banjir tetap saja terjadi di Desa Tempuran.

banjir di mojokertoSekolah juga terendam banjir (Foto: Enggran Eko Budianto)

Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto M Zaini menjelaskan, saringan sampah Dam Siphon bukan penyebab utama banjir di Desa Tempuran. Menurut dia, banjir di kampung tersebut berasal dari aliran Avour Watudakon.

"Penyebabnya bukan satu-satunya saringan sampah. Yang lebih mendesak adalah tanggul dan normalisasi yang belum selesai oleh BBWS Brantas. Akan dilanjut bulan 4 atau 5 tahun 2021. Jadi, bukan luberan, tapi air lewat tidak ada tanggul sama sekali," tegasnya.

Ia menambahkan, titik tanggul Avour Watudakon yang perlu dibangun dari Desa Jombok, Kecamatan Kesamben, Jombang hingga Desa Tempuran. Panjangnya sekitar 3 kilometer.

"Diperlukan tanggul setinggi tiga meter dengan lebar dua meter," tandasnya. (iwd/iwd)