Penjualan Gula Rafinasi di Lamongan Dibongkar, Ini Kata Disperindag

Eko Sudjarwo - detikNews
Selasa, 24 Nov 2020 18:43 WIB
gula rafinasi
Polisi mengamankan 20 ton gula rafinasi (Foto: Eko Sudjarwo)
Lamongan -

Sindikat gula rafinasi dijual sebagai gula konsumsi di Lamongan dibongkar. Untuk kesehatan, gula rafinasi ini sangat berbahaya jika langsung dikonsumsi.

Kepala Disperindag Lamongan Muhammad Zamroni yang juga ikut dalam konferensi pers ini mengatakan praktik yang dilakukan oleh para pelaku menyalahi Peraturan Menteri Perdagangan nomor 1 tahun 2019 tentang perdagangan gula kristal rafinasi.

"Gula rafinasi dalam Permendag itu peruntukkannya memang hanya untuk industri, bukan untuk dijual umum. Kalau dijual umum, harus ada pengolahan lagi," tutur Zamroni kepada wartawan di Polres lamongan, Selasa (24/11/2020).

Dari segi medis, Zamroni menyebut pihaknya tidak berwenang dalam memberikan pernyataan. Hanya saja, gula rafinasi apabila langsung dikonsumsi tanpa dilakukan tahap pengolahan seperti aturan akan terasa lebih manis daripada gula pasir biasa yang ada di pasaran dan gula rafinasi juga sangat membahayakan kesehatan jika langsung dikonsumsi.

"Kami berterima kasih kepada pihak kepolisian, sebab dengan ini turut menstabilkan harga gula di pasaran," ujar Zamroni yang menambahkan kalau gula rafinasi ini distribusinya seharusnya ditujukan ke industri menengah dan industri besar.

Lalu bagaimana membedakan gula rafinasi dengan gula pasir biasa ketika di pasaran? Secara gampang, menurut Zamroni, jika gula rafinasi ini biasanya lebih lembut dari gula biasa. Selain itu, warna gula rafinasi juga lebih putih dari gula biasa.

"Bentuknya lebih lembut dan lebih putih dari gula biasa," terang Zamroni.

Disperindag Lamongan bersama Polres Lamongan, lanjut Zamroni, memastikan akan intens melakukan pengawasan dan operasi agar sindikat serupa tidak lagi masuk wilayah Lamongan. Dalam waktu dekat, tandas Zamroni, pihaknya bersama polisi akan terjun ke pasar-pasar untuk melihat apakah gula rafinasi ini masih ada di pasaran atau tidak.

"Kami akan intens untuk melakukan pengawasan dan operasi untuk melihat apakah gula rafinasi ini masih beredar atau tidak," tegasnya.

Zamroni juga mengungkapkan, gula pasir saat ini dijual di pasaran di Lamongan dengan harga Rp 12ribu/kg. Sementara, untuk gula rafinasi ini dijual langsung ke pasaran jauh dari harga tersebut. Para tersangka mendapatkan gula rafinasi tersebut dari Banyumas Jateng dengan harga Rp. 10.400/kg yang kemudian dikemas ulang. "Kami akan bekerja sama dengan polisi untuk menstabilkan harga gula di Lamongan dengan mengadang peredaran gula rafinasi di Lamongan," pungkas Zamroni.

(iwd/iwd)