Long Weekend dan Longgarnya Prokes Tingkatkan Kasus Baru COVID-19 di Jatim

Esti Widiyana - detikNews
Selasa, 24 Nov 2020 13:13 WIB
Tim Surveillance COVID-19 Universitas Airlangga, DR. Dr. Windhu Purnomo, M.S
Pakar Kesehatan Masyarakat dan Ahli Epidemiologi Unair Windhu Purnomo (Foto: Hilda Meilisa RinandaFoto: Hilda Meilisa Rinanda
Surabaya -

Kasus COVID-19 di Jatim meningkat, di laman http://infocovid19.jatimprov.go.id per tanggal 23 November 2020 terdapat penambahan sebanyak 365 orang. Salah satu penyebabnya adalah long weekend sekitar tiga pekan lalu.

Pakar Kesehatan Masyarakat dan Ahli Epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Windhu Purnomo mengatakan ada dua kemungkinan kasus COVID-19 di Jatim meningkat. Long weekend beberapa waktu lalu dan mulai kendornya protokol kesehatan.

"Ya bisa karena long weekend. 14 hari terlapor setelah long weekend terjadi (kenaikan kasus). Bisa juga karena kepatuhan warga akan protokol kesehatan yang longgar," kata Windhu saat dihubungi detikcom, Selasa (24/11/2020).

Windhu mengatakan selama pandemi COVID-19, protokol kesehatan wajib dipatuhi masyakat dan tidak boleh kendor untuk menghentikan penularan.

"Karena saya lihat memang kendor (protokol kesehatannya). Menurut saya bisa karena akibat libur panjang beberapa minggu yang lalu dan ketambahan pengendoran 3M dari warga," jelasnya.

Windhu menjelaskan, naik turunnya data COVID-19 dilihat pada realita yang ada, seperti testing dan tracing. Jika kedua hal penting itu dilakukan maka kabupaten/kota di Jatim bisa mengendalikannya, tetapi jika tidak maka underestimate.

Oleh karena itu harus dipahami, jika kasus turun artinya kasus COVID-19 memang menurun penyebarannya. Artinya, yang turun adalah penularannya, bukan testingnya yang menurun.

"Pertanyaan, testing di Surabaya maupun di daerah lain tracing tetap kuat apa tidak. Kalau saya liat tracingnya di Surabaya melemah sekarang. Testingnya bagus, cuman tracing yang lemah. Kalau tracing lemah jangan-jangan kasus yang ada sekarang itu sebetulnya lebih tinggi dari pada yang terlaporkan," pungkasnya.

(iwd/iwd)