Tradisi Ndhog-ndhogan di Banyuwangi Digelar Sejak Abad ke-18

Ardian Fanani - detikNews
Jumat, 30 Okt 2020 09:03 WIB
Tradisi Arak-arakan Ndhog-ndhogan di Banyuwangi berkurang di Tengah Pandemi COVID-19
Tradisi ndhog-ndhogan di Banyuwangi (Foto: Ardian Fanani/detikcom)
Banyuwangi -

Tradisi arak-arakan Ndhog-ndhogan di Banyuwangi digelar sejak abad ke-18. Tradisi ini jadi peringatan wajib warga memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi MY Bramuda mengatakan, cikal bakal tradisi ini muncul dari Dusun Cemoro, Desa Balak, Songgon, Banyuwangi. RM. Mudasir atau dikenal sebagai KH. Abdullah Faqih, tokoh ulama setempat menerjemahkan perkataan gurunya, Syaikhona Kholil tentang penyebaran Islam di Indonesia.

"Karena pembicaraan Syaikhona Kholil kepada murid-muridnya mengatakan perkembangan Islam itu sudah lahir di nusantara ini ibarat sebuah telur. Kulit telurnya adalah sebuah perkumpulan, sedangkan isinya adalah amaliyah (pengamalan). Kulit tanpa isi adalah kosong, dan isi tanpa kulit akan berantakan". Perkataan ini diterjemahkan bermacam-macam oleh para muridnya. Salah satu muridnya," ujarnya kepada detikcom, Jumat (30/10/2020).

Lantas, KH. Abdullah Faqih menerjemahkan kalimat itu dengan mengumpulkan telur dan batang pisang, lalu telur tersebut dihias dan ditancapkan ke batang pisang. Itu dilakukan sekembalinya ia berguru pada Syaikhona Kholil pada tahun 1911.

Tradisi ini menyebar, dari awalnya hanya diikuti oleh para santri KH. Abdullah Faqih hingga berlanjut menjadi tradisi yang dilakukan oleh para warga di Banyuwangi.

"Mulai tahun 1995, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mulai memberi perhatian pada tradisi ini sehingga diadakan Pawai Endhog-endhogan. Bahkan Pawai Endhog-endhogan ini masuk dalam rangkaian acara Banyuwangi Festival pada tahun 2018," tambahnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2