Dewan Pers Minta Media Lawan Berita Hoaks

Ardian Fanani - detikNews
Jumat, 23 Okt 2020 20:49 WIB
bupati anas
Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi -

Dewan Pers Republik Indonesia meminta kepada media di Banyuwangi menghadirkan pemberitaan yang bertanggung jawab. Hal ini seiring dengan perkembangan berita hoaks yang banyak berkembang di media sosial.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua Komisi Penelitian, Pendataan, dan Ratifikasi Pers Dewan Pers Indonesia, Ahmad Jauhar Tas'an, saat digelar seminar "Kampanye Sehat di Media Massa" di Pendopo Banyuwangi, Jumat siang (23/10/2020).

Seminar dibuka Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas. Tiga narasumber dihadirkan untuk berbagi wawasan dengan insan pers Banyuwangi tersebut. Yakni Ketua Komisi Penelitian, Pendataan, dan Ratifikasi Pers Dewan Pers Indonesia, Ahmad Jauhar Tas'an, Ketua PWI Jawa Timur Ainur Rohim, dan Kapolresta Banyuwangi Kombes Arman Asmara Syarifuddin.

Dalam seminar tersebut ditegaskan bahwa pers dengan produk informasi yang sehat mampu mendorong masyarakat mengembangkan diri dengan lebih baik.

Ahmad Jauhar bercerita bagaimana Eropa dan negara Skandinavia memberi kesempatan kepada pers untuk memberitakan seluas-luasnya namun tetap menghadirkan pemberitaan yang bertanggung jawab. Mereka sudah membuktikan informasi yang sehat mampu mendorong masyarakat untuk mampu mengembangkan diri dengan lebih baik. Ini, imbuh Ahmad Jauhar, selaras dengan apa yang dilakukan Bupati Anas.

"Bupati Anas selalu mengajak media untuk menyampaikan good news is good news tentang Banyuwangi. Ini membuat orang ingin datang ke Banyuwangi, dan yang sudah pernah ke Banyuwangi selalu ingin kembali. Itu pentingnya pemberitaan yang sehat," tuturnya.

Ketua PWI Jatim, Ainur menyebut perlunya penguatan media massa di tengah media sosial menjadi alternatif orang untuk mendapatkan informasi. Bahkan, saat pelaksanaan pilkada, media massa harus bisa menjadi market place of idea. Yakni, tempat untuk memasarkan ide-ide dari calon pimpinan masyarakat.

"Kenapa harus media massa? Karena di media massa ada proses klarifikasi dan konfirmasi kebenaran yang dilakukan oleh jajaran redaksi. Itu yang membedakan media massa dengan media sosial," kata Ainur.

Selanjutnya
Halaman
1 2