Khofifah Ajak BPBD hingga Dinsos Antisipasi Peningkatan Hujan Akibat La Nina

Suparno - detikNews
Rabu, 21 Okt 2020 17:58 WIB
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta jajaran terkait bersiap mengantisipasi peningkatan curah hujan, akibat adanya fenomena anomali iklim La Nina. Mulai dari BMKG, BPBD, Dishub, PU Cipta Karya, Binamarga dan Dinas Sosial.
Rapat koordinasi untuk kesiapsiagaan, di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim/Foto: Suparno
Sidoarjo -

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta jajaran terkait bersiap mengantisipasi peningkatan curah hujan, akibat adanya fenomena anomali iklim La Nina. Mulai dari BMKG, BPBD, Dishub, PU Cipta Karya, Binamarga dan Dinas Sosial.

"Berdasarkan data dari BMKG menunjukkan, La Nina dapat menyebabkan terjadinya peningkatan akumulasi curah hujan naik 25 persen," Kata Khofifah usai memimpin rapat koordinasi bersama semua pihak untuk kesiapsiagaan, di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim, Rabu (21/10/2020).

Khofifah meminta, semua pihak utamanya instansi yang memiliki kemampuan kebencanaan untuk segera memitigasi, dari setiap potensi kebencanaan dari hulu hingga hilir. Maka, rapat koordinasi hari ini harus bisa mem-break down secara detail. Terutama pada jalur-jalur evakuasi jika terdapat bencana banjir, longsor ataupun angin puting beliung. Untuk itu, seluruh instansi kebencanaan harus melakukan antisipasi bersama.

"Saya minta ini harus didetailkan. Baik BMKG, BPBD, Dinsos, Dinas PU Cipta Karya, Dinas Kesehatan, hingga Bappeda dan seluruh instansi kebencanaan untuk mengantisipasi adanya dampak yang terjadi. Ini sesuatu yang kompleks karena kebencanaan yang terjadi dapat mengakibatkan kemiskinan baru," imbuhnya.

Secara khusus, mantan Menteri Sosial itu menginstruksikan jajarannya untuk segera memitigasi secara detail dari hulu hingga hilir, dengan mulai menghitung seluruh potensi dampak yang ditimbulkan terhadap sektor sosial, ekonomi dan kehidupan masyarakat. Baik tempat evakuasi, dampak sosial dan ekonomi seperti pertanian, perkebunan, perikanan dan sebagainya.

"Kalau kita bisa mendetailkan koordinasi secara operasional, akan bagus dalam melangkah menangani kesiapsiagaan bencana. Kami tidak ingin terlambat merespons adanya fenomena La Nina," terangnya.

Gubernur perempuan pertama di Jatim itu mengingatkan, di masa Pandemi COVID-19 ini, penanganan bencana harus dilakukan secara detail dan terukur. "Kita harus mem-break down, jikalau nanti ada evakuasi. Pandemi COVID-19 belum berakhir. Kita sama-sama melakukan antisipasi lebih terukur melalui pola mitigasi. Mulai dari hulu hingga hilir seperti apa," ungkapnya.

Khofifah mengibaratkan, jika nantinya terjadi banjir, puting beliung, maupun longsor bisa melakukan evakuasi di mana saja, dengan tetap menjaga protokol kesehatan. Inilah yang membedakan antara antisipasi risiko bencana alam saat ada dan tidak ada pandemi COVID-19.

Simak juga video 'BMKG: Puncak La Nina dan Musim Hujan Desember-Januari':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2