Safari ke Tokoh Agama, Cara Kepala BNPT Cegah Radikalisme di Jatim

Enggran Eko Budianto - detikNews
Rabu, 21 Okt 2020 10:28 WIB
Safari ke Toga dan Tomas, Cara Kepala BNPT Cegah Radikalisme di Jatim
Foto: Istimewa
Jombang -

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar bersafari ke para tokoh agama dan masyarakat di Jatim. Dalam safarinya, Boy juga melakukan sosialisasi dan koordinasi untuk mencegah masuknya paham radikal.

Boy mengawali kunjungan kerjanya di Jatim dengan berziarah ke makam Presiden Keempat RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dan keluarganya di Ponpes Tebuireng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang. Mantan Kadiv Humas Mabes Polri ini juga melakukan silaturahmi kebangsaan dengan keluarga besar pengasuh Ponpes Tebuireng.

"Silaturahmi yang bermanfaat ini akan terus kami sosialisasikan dengan mengedepankan nilai-nilai Islam moderat yang rahmatan lilalamin. Tentunyanya dengan semangat ukhuwah di antara anak bangsa untuk melahirkan generasi bangsa yang memiliki nilai agama dan nilai kebangsaan dengan semangat nasionalisme agar dapat menyeimbangkan kehidupan NKRI," kata Boy dalam rilis yang diterima detikcom, Rabu (21/10/2020).

Boy menjelaskan, BNPT akan bekerjasama dengan Pesantren Tebuireng untuk memberi pelatihan wawasan kebangsaan kepada para ustaz dan ustazah. Melalui kerjasama tersebut, dia berharap nasionalisme di pesantren yang didirikan KH Hasyim Asy'ari ini meningkat. Karena Ponpes Tebuireng mempunyai sejarah penting da pengaruh besar dalam kemerdekaan Bangsa Indonesia.

"Semangat kebangsaan yang digalakkan para pendiri pondok pesantren ini sepertinya dari sebelum hingga awal kemerdekaan Republik Indonesia ini menjadi modal BNPT dalam menyosialisasikan hal serupa kepada masyarakat," terangnya.

Safari ke Toga dan Tomas, Cara Kepala BNPT Cegah Radikalisme di JatimKepala BNPT safari ke Jatim cegah radikalisme/ Foto: Istimewa

Pengasuh Ponpes Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menyambut baik kunjungan kerja Kepala BNPT. Terlebih lagi silaturahmi kali ini menghasilkan sinergi yang baik antara Pesantren Tebuireng dengan BNPT.

"Karena di pondok pesantren ini diterapkan pelajaran-pelajaran mengenai ukhuwah yang merupakan suatu perintah. Bagaimana kita mempelajari mengenai ukhuwah ini, bagaimana kita bersilaturahmi, bagaimana mempertahankan dan menjaga kekerabatan. Dari silaturahmi ini banyak sekali yang kita dapatkan untuk mencegah permusuhan," tandas Gus Kikin.

Ponpes Tebuieng merupakan pesantren tertua dan terbesar di Indonesia yang berdiri pada tahun 1899. Pesantren ini melahirkan tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam pendidikan agama di Indonesia. Seperti KH Hasyim Asyari, KH Abdul Wahid Hasyim, dan KH Abdurrahman Wahid.

Dalam mencegah masuknya paham radikalisme terorisme di lingkungan pendidikan agama, pesantren memiliki peran vital. Oleh sebab itu, penting bagi pemerintah memperhatikan kurikulum pendidikan dan para pengajar yang memiliki paham kebangsaan dan pengetahuan agama yang seimbang.

Selama di Kabupaten Jombang, Kepala BNPT juga berziarah ke makam Pahlawan Nasional KH Abdul Wahab Chasbullah. Kiai Wahab dikenal sebagai inspirator, pendiri, dan penggerak Nahdlatul Ulama (NU).

(fat/fat)