Ulat dan Virus Gagalkan Panen, Harga Bawang Merah Melonjak

M Rofiq - detikNews
Selasa, 06 Okt 2020 16:14 WIB
bawang merah
Petani bawang merah di Probolinggo gagal panen akibat serang ulat dan virus (Foto: M Rofiq)
Probolinggo -

Ulat dan virus menyerang tanaman bawang merah milik petani Probolinggo. Serangan hama ini sudah berlangsung sekitar sebulan lamanya.

Dampaknya, banyak petani bawang merugi. Stok bawang merah di Pasar Sentra Bawang Merah Dringu sehingga harganya merangkak naik.

Petani yang sedang merana ini adalah petani bawang di Desa Tamansari, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo. Para petani dibuat kelabakan oleh ulah hama ini.

Hanya dalam hitungan beberapa pekan saja, ulat dan virus memporak-porandakan tanaman mereka. Hama ini biasanya menyerang pada tanaman pada usia 30 hari. Ulat daun berukuran agak besar sementara virus bentuknya sangat kecil namun membuat tanaman mengering.

bawang merahFoto: M Rofiq

Virus membuat daun bawang merah yang awalnya hijau berubah menjadi kuning kering di ujungnya. Lama-kelamaan mengering dan tidak bisa tumbuh besar. Sementara ulat memakan daun bawang muda dengan cara bersembunyi di dalam daun hingga nantinya batang tanaman mati.

Untuk setiap 1 hektare tanaman bawang merah, petani mengalami kerugian mencapai Rp 75 juta. Kerugian tersebut termasuk pembelian bibit dan obat-obatan.

"Ulat daun dan virus menyerang tanaman pada usia 30 hari. Meski diobati dan ditutup jaring, tidak mempan. Tetap ulat menyerang dan bikin gagal panen. Kerugian saya Rp 20 juta di sawah ukuran 150 meter persegi," ujar salah satu petani, Jumari, saat dikonfirmasi detik.com di sawahnya, Selasa (6/10/2020).

Gagalnya panen membuat harga bawang merah di Sentra Pasar Bawang Merah Dringu mengalami kenaikan cukup signifikan untuk bawang kualitas super. Bila biasanya harga berkisar Rp 15 ribu per kg, maka saat ini harga bawang merah mencapai Rp 24-Rp 26 ribu.

Kepala Pasar Bawang Merah Dringu Sutaman Efendi mengatakan saat ini kondisi stok bawang merah di Kabupaten Probolinggo mulai menipis, sekitar 23 ton saja. Karena itu banyak pedagang membeli bawang merah dalam partai besar dari Bima, NTB.

"Akibat serangan ulat hijau dan virus membuat banyak petani bawah merah gagal panen. Dampaknya stok bawang merah khas Probolinggo terus menipis di pasaran. Membuat harga bawang merah terus naik. Sebagian pedagang mendatangkan bawang merah dari Bima. Tapi hanya pedagang yang memiliki modal banyak saja yang membeli dari Bima," kata Sutarman.

Saat ini yang hanya bisa dilakukan petani di Probolinggo hanyalah mengais tanaman bawang yang mulai mati. Nantinya dijual murah ke padagang sayur mayur. Harsa per kilogramya hanta Rp 13 ribu saja.

(iwd/iwd)