Round-Up

Saat Peneliti Unair Temukan Mutasi Corona Surabaya

Tim Detikcom - detikNews
Selasa, 01 Sep 2020 11:03 WIB
Anggota Tim Riset Covid-19 Unair, Prof Dr Ni Nyoman Tri Puspaningsih
Prof Ni Nyoman Tri Puspaningsih (Foto: Esti Widiyana/detikcom)
Surabaya - Peneliti dan Pakar Biomolekular Universitas Airlangga (Unair) Prof Ni Nyoman Tri Puspaningsih mengklaim ada mutasi baru virus COVID-19 di Surabaya. Virus Corona ini bermutasi menjadi Corona lain yang sangat jarang ditemui, yakni tipe Q677H. Dan Mutasi Corona Surabaya tipe Q677H ini sangat jarang ditemui.

Mutasi virus Corona Q677H ini sedang dipelajari pengaruh lain, selain tingkat penyebaran. Sebab, tipe Q677H masih 0,12% di data internasional giset yang terkonfirmasi 12 negara dari jumlah 99 virus atau pasien baru ditemukan di informasi data base pada Maret atau April.

Salah satu yang menyumbang data mutan di Indonesia di giset, masih Surabaya. Belum ditemukan di kota lain. Namun, tipe virus Q677H ini sudah ada di negara lain khususnya Eropa, AS, Australia, India, termasuk pula Timur Tengah. Tetapi pada peta, tidak sebanyak D614G.

"Kami sekarang masih mempelajari interaksi protein ke protein. Kami tidak meneliti sampai tingkat kematian karena meneliti di situ harus tracing terhadap kondisi pasien. Kami kerja sama dengan RS, litbangkes untuk mendapatkan sample lebih banyak untuk mengetahui apakah juga menyebar di daerah lain di Indonesia," kata Nyoman saat dihubungi detikcom, Senin (31/8/2020).

"Apakah (Virus ini) menyebabkan kematian? Karena datanya masih sedikit. Q677H saja baru 1, sedangkan D614G baru 12 data yang ada di giset Indonesia. Data ini masih sangat sedikit untuk mengatakan ini menyebabkan tingkat kematian, itu belum ada bukti signifikan, masih bervariasi," jelasnya.

Pihaknya berharap virus itu cepat termutasi, sekaligus cepat hilang. Dengan termutasi, ada dua kemungkinan, virus semakin kuat atau lemah.

"Lama-lama kemampuannya menurun untuk menginfeksi. Sisi klinik riwayat, tracing pasien, sembuh, perlu data banyak, nggak bisa data satu pasien saja. Sehingga kami bisa pelajari molekulnya. Namun bukan mempelajari riwayat pasien, karena hal itu bukan wewenang kami, itu wewenang dokter," jelasnya.

Dia juga menyebut virus itu akan survive. Karena virus tidak bisa hidup sendiri di luar sel inang. Jika virus, terlebih COVID-19 tidak masuk ke tubuh dan berkembang biak, dia mengharapkan masyarakat patuh protokol kesehatan. Hal itu harus dilakukan secara disiplin selama belum ada obat maupun vaksin yang masih pada tahap percobaan.

"Jadi selama belum ada obat dan vaksin, maka semua masyarakat harus mematuhi protokol kesehatan dengan baik dan sangat disiplin. Jaga kebersihan, kesehatan, pakai masker, face shield, selalu cuci tangan. Jika mau memegang wajah cuci tangan dulu, pakai hand sanitizer," tandasnya.

Virus masuk ke sel inang, akan mendapat perangkat dari sel inang untuk berkembang biak. Hal itulah yang menjadi berbahaya jika virus masuk ke dalam tubuh manusia.

Virus itu tidak memiliki perangkat seperti perangkatnya manusia yang lengkap. Seperti mempunyai DNA, kromosom, bisa transisi RNA, memiliki sistem kompartemen yang sangat teratur sampai menjadi protein. Semua sudah ada organ selnya, punya fungsi masing-masing protein tersebut yang diterjemahkan dari DNA sebagai materi genetik. (fat/fat)