Dari Mana Mutasi Corona Surabaya yang Ditemukan Peneliti Unair?

Esti Widiyana - detikNews
Senin, 31 Agu 2020 19:51 WIB
Anggota Tim Riset Covid-19 Unair, Prof Dr Ni Nyoman Tri Puspaningsih
Prof Ni Nyoman Tri Puspaningsih (Foto file: Esti Widiyana/detikcom)

"Tapi data dikoleksi dari bulan April baru selesai bulan Mei. Sehingga kalau bulan April koleksinya satu bulan setelah Indonesia terkonfirmasi positif di bulan Maret," ucapnya.

"Dari Unair 6 (whole genome), dua bulan Mei dari koleksi bulan April dan Maret, empatnya bulan Juni. Total 6 tidak sekaligus, tapi dua kali submit. Dari dua kali submit itu bulan Mei dapat satu sama mirip dengan strain mirip Eropa dan ada mutan 614 + 677 kemudian di bulan Juni ketemu mutan 614 lagi. Jadi kita punya 2 strain mirip Eropa 4 strain mirip China. Data ini masih sedikit dari kami mengatakan bahwa mutan ini tersebar luas. Jadi kami perlu banyak data dari Indonesia," jelasnya.

Ni Nyoman menambahkan hingga hari ini Indonesia baru menyumbangkan 33 data genome virus dan whole genome itu baru sekitar 21 dari 33. Artinya, sisanya apakah tidak whole genome?

"Iya sisanya itu hanya parsial. Misalnya hanya ketemu siquence proteinnya saja, satunya siquence dari lainnya. Tapi kalau whole genome semua lengkap 30.000 pasang basah itu Indonesia baru menyumbangkan di data giset baru 21," kata dia.

"Sedangkan negara lain itu kalau dilihat mutasi 614 sudah mencapai 77,5% atau sekitar 63.000 dari sekitar 92.000 penyumbang data whole genome berarti kita kecil sekali dibanding 63.000. Malaysia itu 111 sudah menyumbang, artinya kita 1/3 Malaysia. Walaupun 1/3 tapi mutan 614 sudah ditemukan kolekting data bulan April," tambahnya.

Dari 6 whole genome, ada dua virus yang lebih baik diteliti. Yakni, Q677H dan D614G. Dan Unair menyebut hanya dua jenis virus yang tertarik untuk ditindaklanjuti.

"Tidak hanya dua, ada tujuh point mutasi. Tapi kami tidak tertarik lainnya karena tidak terlalu fatal, tidak di lokasi urgent. Kami tertarik dua ini karena lokasi mutasinya terjadi di spike dan spike penting untuk menempel pada reseptor manusia. Karen spike kami ingin mencari tahu apakah dua titik mutasi ini akan berpengaruh atau tidak terhadap daya infeksi virus pada waktu itu di bulan Mei," pungkasnya.


(fat/fat)