1.167 Perempuan di Mojokerto Jadi Janda Karena Cerai Selama Pandemi COVID-19

Enggran Eko Budianto - detikNews
Kamis, 20 Agu 2020 07:18 WIB
Pengadilan Agama Mojokerto
Pengadilan Agama Mojokerto (Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom)

"Pasangan yang bercerai didominasi usia produktif, sekitar 50 persen usia mereka masih di bawah 40 tahun," terang Romli.

Pernikahan dini atau menikah pada usia yang belum matang, lanjut Romli, juga menjadi pemicu perceraian di Mojokerto. Jumlahnya mencapai sekitar 117 perkara. Berdasarkan UU RI nomor 16 tahun 2019 tentang Perkawinan, usia matang bagi laki-laki dan perempuan agar diizinkan menikah minimal 19 tahun.

"Sepanjang 2020, ada sekitar 10 persen perkara perceraian yang disebabkan usianya belum matang. Usai pernikahan, beberapa bulan kemudian sudah mengajukan perceraian," ungkapnya.

Romli menambahkan, Pengadilan Agama Mojokerto berupaya mencegah bertambahnya jumlah perceraian. Salah satunya selalu melakukan mediasi dalam setiap sidang perceraian.

"Upaya mediasi sudah kami lakukan secara maksimal pada awal persidangan. Namun, lebih banyak pihak-pihak yang bercerai kukuh pada pendiriannya ingin berpisah," jelasnya.

Oleh sebab itu, selain menghindari pernikahan dini, Romli meminta semua pasangan suami istri di Mojokerto bisa membangun keterbukaan komunikasi. "Juga perlu melakukan musyawarah, tidak serta merta setiap terjadi masalah dalam rumah tangga harus diselesaikan di pengadilan agar pernikahan langgeng," tandasnya.

Halaman

(fat/fat)