5 Obat COVID-19 dari Unair Akan Diserahkan Ke Mitra Untuk Uji Klinis Ketiga

Esti Widiyana - detikNews
Jumat, 14 Agu 2020 21:42 WIB
Tim peneliti Universitas Airlangga Surabaya menemukan lima kombinasi obat penawar COVID-19. Kelima obat ini langsung bisa digunakan karena telah tersedia di pasaran.
Foto: Istimewa
Surabaya -

Lima kombinasi obat COVID-19 yang diteliti Universitas Airlangga (Unair) Surabaya besok Sabtu (15/8) siang akan diserahkan ke mitra yang ada di Jakarta. Penyerahan itu nantinya untuk dilakukan uji klinis fase ketiga.

"Alhadulilah semua proses uji klinis terutama untuk masalah jumlah sudah kami penuhi permintaan dari kawan-kawan BPOM, soal inkluitas, soal etik dan yang lain kami sudah kami penuhi sesuai persyaratan dari BPOM," kata Rektor Unair Prof M. Nasih di Gedung Rektorat Kampus C, Jumat (14/8/2020).

"Jadi unair akan menyerahkan pada pihak sponsor dalam tanda kutip mitra kami. Unair sudah menyelesaikan tugasnya dan mengembalikan ke mitra kami," lanjutnya.

Dalam uji klinis ini, Nasih mengatakan, jika pihaknya telah melibatkan sekitar 700 pasien COVID-19. Tentunya pasien harus memenuhi syarat dari segi inklusifitas.

"Sebenarnya ada sekitar 1.000 pasien yang bersedia, tapi ada beberapa syarat terutama syarat inkusifitas jadi 700 yang memenuhi syarat. Itu sudah melebihi yang disyaratkan, karena syarat dari BPOM hanya 600," jelasnya.

Setelah uji klinis diserahkan kepada mitra Unair besok siang, langkah selanjutnya adalah mengurus izin produksi dan izin edar dari BPOM. Di mana nantinya hal tersebut akan dilakukan oleh mitra.

"Mudahan-mudahan BPOM melihat masalah ini adalah masalah yang urgent, mohon doanya untuk kawan-kawan media dan masyarakat agar BPOM juga berbesar hati untuk segera memberi izin, sehingga itu segera bisa diselesaikan September ini," kata dia.

Nasih berharap agar tidak ada halangan dan BPOM bisa memberikan surat izin edar. Jika izin diberikan, maka pada September obat kombinasi tersebut bisa diproduksi.

"Siapa yang memproduksi saya rasa banyak yang akan membantu proses produksinya nanti, karena ini sifatnya urgent," pungkas Nasih.

(iwd/iwd)