Tak Usah Takut Lapor, Polisi Jamin Kerahasiaan Identitas Korban Fetish Pocong

Hilda Meilisa - detikNews
Senin, 03 Agu 2020 16:45 WIB
fetish kain jarik
Foto: Tangkapan layar
Surabaya -

Kasus predator fetish kain jarik mahasiswa Unair yang viral di media sosial menelan banyak korban. Polisi berpesan agar korban tak usah takut melapor. Polisi menjamin akan melindungi dan merahasiakan identitas korban.

"Kalau memang mau melapor ndak apa, tetap dari polisi akan ada perlindungan bagi saksi. Identitas korban tidak akan kita ungkap, kita lindungi saksi," kata Kasubdit IV Renakta Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Lintar Mahardono kepada detikcom di Surabaya, Senin (3/8/2020).

Selain itu, Lintar mengatakan pihaknya juga menyediakan pendampingan psikologi pada korban. Lintar menyebut korban memang rentan stress hingga depresi. Untuk itu, pihaknya telah menyiapkan pendampingan dari biro psikologi kepolisian.

"Kita ada pendampingan psikologi dari biro psikologi kepolisian. Jadi jangan takut melapor, identitas akan kita rahasiakan. Apa bila diperlukan kita siapkan pendampingan psikiater biro psikologi," imbuhnya.

Di kesempatan yang sama, Lintar mengingatkan masyarakat untuk senantiasa waspada. Karena, berbagai modus baru kerap dilakukan pelaku pelecehan hingga melakukan kekerasan seksual.

"Modusnya sih macam-macam. Pernah saya ceritakan waktu pers rilis, bahkan sekarang modusnya ada yang mulai anak kecil disuruh menutup mata tiup lilin ulang tahun terus dicium. Ada modus baru yang harus diwaspadai," pesan Lintar.

Lintar berpesan agar masyarakat tidak mudah percaya dengan orang yang baru dikenal di medsos. Diketahui, salah satu korban mengenal pelaku melalui medsos.

Tak hanya itu, Lintar menyebut masyarakat perlu menaruh rasa curiga terlebih pada orang yang suka mengatakan hal-hal yang mengarah ke topik seksual.

"Seperti mereka mengatakan satu hal ketika itu bernilai negatif dengan modus apapun, dengan cover apapun, kita wajib curiga," tambahnya.

Lintar menambahkan menjadi pribadi yang selalu berprasangka baik itu perlu, namun jangan sampai hal ini menjadikan kita abai akan bahaya pelecehan yang mengancam.

"Berprasangka baik itu harus. Tapi ketika permintaan itu sudah aneh, tidak seperti biasanya kita wajib untuk curiga," lanjut Lintar.

Selain itu, korban juga harus selektif dan berani menolak atau berkata tidak jika ada permintaan yang nyeleneh. Misalnya jika ada permintaan berkedok penelitian, Lintar menyarankan untuk menanyakan hal ini sejelas-jelasnya pada pelaku.

"Untuk korban cowok terhadap kasus kemarin kan rata-rata divideo dengan alasan penelitian. Korbannya banyak kaum akademisi memang," ujarnya.

"Untuk itu, korban harus menanyakan penelitian ini berdasarkan apa, mengarahnya dengan metode apa. Karena metode yang dilakukan penelitian ada banyak, jadi harus ditanya metode apa. Intinya harus waspada terhadap teman-teman yang baru dikenal di media sosial," pesan Lintar.

(hil/iwd)