Struktur Batu Bata Kuno di Malang Disebut Tempat Ibadat Menghadap Gunung Arjuno

Muhammad Aminudin - detikNews
Jumat, 24 Jul 2020 21:14 WIB
struktur batu bata kuno
Batu bata kuno (Foto: Muhammad Aminudin/File)
Malang -

Struktur batu bata kuno yang ditemukan di kebun singkong Desa Langlang, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, diduga adalah tempat peribadatan. Tempat suci mirip bangunan candi tersebut menghadap ke timur atau awal munculnya kehidupan yakni sinar matahari.

"Hasil pengamatan, struktur batu bata kuno ini tidak terkait dengan tempat penghunian dalam arti provan. Tetapi struktur aktivitas religi pada masa lalu," terang Plt Kepala Seksi Perlindungan, Pengembangan dan Pemanfaatan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur Nugroho Harjo Lukito kepada wartawan, Jumat (24/7/2020).

Nugroho menambahkan melihat dari orientasi bangunan religi menghadap ke arah gunung terdekat. Jika ditarik kompas arah mata angin, gunung terdekat adalah Gunung Arjuno yang berada di sisi barat dari struktur batu bata kuno.

"Bagian depan menghadap ke timur atau pertama kali munculnya kehidupan," beber Nugroho.

Meski demikian, BPCB harus meneliti lebih jauh bersama praktisi sejarah untuk mengungkap secara pasti keberadaan situs ketika dibangun pada masanya. Langkah yang memungkinkan adalah dilakukan ekskavasi atau penggalian.

"Kalau untuk periodesasinya kita belum bisa tentukan, hanya jika melihat dari sisi analogi komperehensif dari material batu bata memiliki ketebalan yang tidak biasa, yakni 10 centimeter. Bisa jadi struktur ini dibangun pada era Mataram Kuno atau pra Kerajaan Singhasari," terang Nugroho.

"Atau pada masa Mpu Sindok. Dan telah banyak temuan cagar budaya di masa itu yang menjadi kawasan linier di sepanjang Malang sisi utara sampai dengan mengarah ke Kota Batu," imbuh Nugroho.

Nugroho menambahkan, upaya penyelamatan situs akan dikoordinasikan dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintahan desa, kecamatan sampai dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang.

"Sebagai upaya pelestarian dan juga penyelamatan akan dikoordinasikan agar dapat lebih detil mengetahui struktur batu bata yang ditemukan. Apakah juga nanti bisa dijadikan sebagai destinasi pariwisata," pungkasnya.

Sementara Roni (43), pemilik lahan singkong menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah terkait temuan susunan batu bata kuno di ladangnya tersebut. Selama ini, lanjut dia, belum pernah menemukan batu bata berukuran besar itu.

"Ini baru pertama kali, selama ini saya tanami singkong. Kalau mau ada rencana ekskavasi, saya mengikuti saja. Luas lahan ini sekitar 3.200 meter," ujarnya.

Seperti diberitakan, struktur batu bata kuno ditemukan warga di kebun singkong, Desa Langlang, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Penelitian awal mengungkap material batu bata berbeda dengan penemuan sebelumnya. Dugaan awal dibangun pada 9 atau 10 Masehi atau masa Mpu Sindok.

Batu bata yang ditemukan memiliki ukuran panjang 38 sentimeter, lebar 28 sentimeter dengan ketebalan 10 sentimeter. Batu bata kuno tersebut awalnya ditemukan oleh petugas Pendaftaran Tanah Sistematik Lengkap (PTSL) saat melakukan pengukuran lahan di desa setempat.

(iwd/iwd)