Sebelum Bunuh Diri, Korban Pemerkosaan 8 Orang Sempat Diancam Bunuh

Hilda Meilisa - detikNews
Jumat, 10 Jul 2020 14:49 WIB
Ilustrasi pemerkosaan
Foto: Ilustrasi oleh Edi Wahyono
Bangkalan -

Sebelum nekat mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, korban pemerkosaan oleh delapan orang di Bangkalan, Madura ternyata sempat mendapatkan ancaman. Korban diancam dibunuh jika melaporkan kejadian ini ke polisi.

Hal ini diungkapkan kuasa hukum korban, Sahid. Sahid bercerita jika sebelum meninggal, korban mendapat telepon dari nomor yang tidak dikenal.

"Waktu itu dia panik, dia posisi sebagai korban diancam karena posisi orang tuanya tidak mampu. Juga dia tidak berdaya, diancam. Jiwa dan raganya sakit, dia tertekan dan dia masih mendapatkan ancaman 'kalau melapor saya bunuh kamu' begitu kata-katanya," ungkap Sahid kepada detikcom di Surabaya, Jumat (10/7/2020).

Saat itu, Sahid mengaku kaget mendengar kabar kliennya bunuh diri. Sahid mengakui jika secara psikologi korban merasa depresi. Selain tertekan akibat tindakan pemerkosaan secara bergilir, korban juga merasa sakit di sekujur tubuhnya hingga lebam.

"Saya yang paling kaget lagi bahwa korban bunuh diri karena depresi, diancam melalui telepon yang tidak tahu nomornya. Sehingga dia secara psikologi dia tertekan," imbuhnya.

Hal ini pun semakin dibuat runyam oleh desas-desus tetangga di sekitar kediaman korban. Sahid menyebut korban juga tidak kuat dengan penghakiman yang dibuat oleh para tetangga.

"Terus masyarakat ada gonjang-ganjing, korban saat itu tidak ada yang mendampingi. Akhirnya dia mengambil jalan pintas dengan diduga kuat bunuh diri itu. Akhirnya saya atas nama kemanusiaan, saya hadir, saya membantu pribadi. Tujuan saya pelaku harus ditangkap dan diserahkan ke pihak kepolisian biarlah hukum yang proses," papar Sahid.

Sahid berharap usai kejadian ini, tidak ada lagi penghakiman pada korban pemerkosaan. Dalam kasus pemerkosaan, yang bersalah adalah tersangka yang melakukan tindakan keji.

"Saya kaget dan gemetar waktu itu pas dengar korban bunuh diri. Sudah korban kena isu di masyarakat yang mengatakan sebenarnya yang salah itu pelaku bukan korban. Orang Indonesia itu kalau memandang ada kejadian pemerkosaan yang salah itu korban bukan pelaku. Itu kan kasihan. Dimana pun perempuan sebagai korban pemerkosaan yang salah tetap pelaku," sesal Sahid.

(hil/iwd)