Ngabalin Minta Susi Tak Ganggu Kebijakan Ekspor Benur Lobster

Ardian Fanani - detikNews
Kamis, 09 Jul 2020 21:27 WIB
Ali mochtar ngabalin
Ali Mochtar Ngabalin (Foto: Ardian Fanani)
Banyuwangi -

Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin meminta mantan Menteri KKP Susi Pudjiastuti untuk tidak mengganggu kebijakan dibukanya kran ekspor benih lobster yang sudah dibuka oleh Menteri Kelautan dan Perikanan saat ini, Edhy Prabowo.

"Makanya saya bilang ibu susi sudah selesai dengan regulasi 5 tahun lalu. Ada kurang ada lebih. Maksudnya langkah ini (ekspor benih lobster) dilakukan karena pemerintah mendengarkan suara dari bawah," ujarnya saat lawatan di Banyuwangi bersama dengan Menteri KKP Edhy Prabowo, Kamis (9/7/2020).

Menurut Ngabalin, kebijakan lama yang dilakukan oleh mantan menteri Susi Pudjiastuti sudah tidak berlaku lagi. Kali ini, kebijakan baru dari menteri yang baru sudah berlaku.

"Orang punya masanya, setiap masa punya orang. Ada menteri baru, ya regulasi baru. Makanya adanya dibukanya kran (ekspor lobster) lebar bersyukur kepada Allah," tambah pria yang juga Anggota Komisi Pemangku Kepentingan dan Konsultasi Publik Kelautan dan Perikanan ini.

"Semua aturan ada periode, menteri lalu Ibu Susi Pudjiastuti, dia sudah selesai pada zamannya, dia sudah selesai pada waktunya," tambahnya.

Diakui Ngabalin, apa yang dilakukan KKP saat ini banyak pemerintah bakal menanggung segala resikonya, termasuk dibully. Namun karena hal ini juga merupakan aspirasi masyarakat nelayan di Indonesia, hal ini pun diwujudkan.

"Saya pernah ngurus mereka (nelayan) di penjara, jatuh bangkrut, kapalnya tenggelam. Kebijakan ini sudah tepat karena pada saat waktu yang tepat. Sehingga masyarakat memiliki kepastian terhadap dibukanya kran lobster. Saya selalu merinding melihat kesusahan nelayan ini. Karena di wilayah Pantura saja mereka bekerja dari laut," tambahnya.

Ngabalin meyakini pembukaan kran ekspor benih lobster itu tidk mungkin keliru. Sebab kekayaan alam yang ada di laut Indonesia tidak akan habis.

"Tidak mungkin keliru karena luar biasa kita punya kekayaan sayang jika tidak dimanfaatkan," pungkas Ngabalin.

(iwd/iwd)