Curhat Polisi Makamkan 70 Jenazah COVID-19 hingga Tertidur di Kuburan

Muhammad Aminudin - detikNews
Kamis, 09 Jul 2020 11:33 WIB
Relawan saat memakamkan jenazah COVID-19 di Kota Malang
Relawan makamkan jenazah COVID-19 hingga tertidur di kuburan (Foto: Istimewa)
Malang -

Puluhan warga Kota Malang meninggal dunia karena COVID-19. Proses pemulasaran jenazah dilakukan oleh relawan, sejak berangkat dari rumah sakit hingga pemakaman. Di balik semua itu, ada Kompol Sutiono, relawan pemulasaran jenazah dari unsur kepolisian.

"Sampai hari ini, saya sudah memakamkan 70 warga yang semuanya adalah warga Kota Malang yang meninggal karena COVID-19," kata Sutiono kepada detikcom, Kamis (9/7/2020).

Kasatintelkam Polresta Malang Kota ini mengaku awalnya ada perasaan takut saat memutuskan menjadi relawan pemulasaran jenazah pasien COVID-19. Namun perasaan iba memanggil Sutiono untuk melibatkan diri, sekaligus menghilangkan rasa takut yang ada.

"Rasa takut awalnya ada, tetapi saya sering komunikasi dengan dokter, bagaimana supaya tidak tertular. Yang penting harus safety. Untuk urusan muka harus betul-betul rapat. Setelah memakamkan tangan harus dimasukkan ke cairan alkohol 70 persen. Hampir setiap hari seperti itu," beber polisi berusia 49 tahun ini.

Awalnya Sutiono seorang diri yang menjadi relawan pemulasaran jenazah pasien COVID-19 dari unsur kepolisian. Sebelum itu, Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Leonardus Simarmata meginginkan ada keterlibatan nyata kepolisian dalam membantu penanganan COVID-19, khususnya proses pemulasaran jenazah.

Tim pemulasaran akhirnya dibentuk beranggotakan personel dari Polresta Malang Kota. Semua dilakukan demi memberikan sumbangsih kepada masyarakat di tengah pandemi Corona. Berjalannya waktu, relawan dari unsur kepolisian bertambah menjadi 6 orang termasuk Sutiono di dalamnya.

Dalam menjalankan tugas, Sutiono bekerja sama dengan relawan pemulasaran jenazah dari Public Safety Center (PSC) 119 Kota Malang. Kini, hampir setiap hari mereka memakamkan warga yang meninggal karena COVID-19, entah awalnya berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) tetapi kemudian hasil swab menyatakan mereka terkonfirmasi COVID-19.

"Dulu awalnya satu, sekarang sehari bisa lebih dari dua kali pemakaman. Pernah dalam sehari sampai lima kali. Mayoritas terkonfirmasi COVID-19, meskipun mulanya berstatus PDP saat meninggal," terang Sutiono.

Rasa lelah tentu dirasakan para relawan, termasuk Sutiono. Karena rata-rata pemakaman dilakukan malam hari bahkan dini hari. Belum lagi medan berat di lokasi pemakaman, relawan harus berjibaku membawa jenazah sampai liang lahat.

Tonton juga 'Warga Jemput Paksa Jenazah Pasien COVID-19 di RSUD Mataram':

[Gambas:Video 20detik]

Selanjutnya
Halaman
1 2