Tanam Hidroorganik Jawaban Ketahanan Pangan Saat Pandemi Corona

Erliana Riady - detikNews
Kamis, 09 Jul 2020 09:25 WIB
Teknik Tanam Hidroorganik Saat Pandemi COVID-19
Tanaman hidroorganik (Foto: Erliana Riady/detikcom)
Blitar -

Warga Kota Blitar mengubah halamannya menjadi lahan bertanam sistem hidroorganik. Sistem tanam ini, diklaim menjadi jawaban usaha ketahanan pangan new normal di saat pandemi COVID-19.

Ide ini tercetus, buah pemikiran harus bertahan ketika virus Corona masih jadi pandemi dan tak tahu kapan berakhirnya. Dari pemikiran itulah, Budi Harto membuat kolam ikan lele dan memasang paralon-paralon di atasnya untuk media tanam.

Tak hanya beragam sayuran yang ditanam, menanam padi juga dilakukan. Di samping kolam itu, dia buat kandang untuk beternak kelinci. Halaman rumahnya di Kelurahan Tanjungsari Kecamatan Sukorejo tampak tertata rapi.

Budi menggunakan teknik bertanam yang unik, yakni hidroorganik. Cara bertanam, dengan menggunakan media gelas plastik yang memanfaatkan air kolam ikan untuk pengairannya. Teknik hidroorganik ini dipilih Hari, karena memiliki dua keunggulan yakni dapat memanen ikan dan padi secara bersamaan.

"Ini jawaban dari program pemerintah tentang ketahanan pangan keluarga saat new normal di saat pandemi Corona," kata Budi kepada detikcom, Kamis (9/7/2020).

Teknik tanam hidroorganik ini, lanjutnya, sangat cocok diterapkan di perkotaan. Dengan areal lahan yang terbatas, namun bisa digunakan untuk menanam padi dan di bawahnya beternak ikan di dalam kolam.

"Tanaman di sini tanpa pupuk kimia. Semua memanfaatkan yang ada di alam. Ada simbiosis mutualisme antara habitat kolam dengan tanaman di atasnya," jelas pria berusia 59 tahun ini.

Budi memanfaatkan kotoran kelinci dan ikan diolah menjadi pupuk sayuran dan padi. Sedang untuk obat pembasmi hama, dia menggunakan bahan organik seperti daun sirsak dan air kencing kelinci.

"Setiap satu gelas tanaman padi dapat menghasilkan 2 ons hingga 3 ons beras. Jika menanam 100 gelas, hasil panen bisa untuk stok makan selama 2 bulan," imbuhnya.

Budi yakin, sistem yang dipakainya ini bisa diaplikasikan semua warga Kota Blitar. Asalkan pengetahuan cara membuat pupuk organik benar-benar dipelajari. Karena sistem hidroorganik ini tidak menyita banyak waktu dan biaya untuk pemeliharaan.

"Untungnya banyak. Sekalinya panen lele, sekaligus panen padi. Kalau butuh sayuran, tiap hari bisa ada yang diambil langsung dimasak. Secara hitungan, lebih murah jika dibandingkan belanja di pasar," pungkasnya.

(fat/fat)