Jejak Raja Girindrawardhana di Mojokerto, Penguasa Era Majapahit Akhir

Enggran Eko Budianto - detikNews
Rabu, 03 Jun 2020 09:17 WIB
Jejak Raja Girindrawardhana di Mojokerto, Penguasa Era Majapahit Akhir
Jejak Raja Girindrawardhana di Mojokerto (Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom)

Jejak kekuasaan Girindrawardhana, lanjut Wicaksono, juga dibuktikan dengan temuan 4 prasasti di Desa Jiyu. Salah satu prasasti bertuliskan angka tahun 1486 masehi saat Girindrawardhana berkuasa. Menurut dia, prasasti tersebut berisi kebijakan Raja Girindrawardhana yang menetapkan Desa Jiyu sebagai tanah perdikan atau tanah bebas pajak.

"Pada Prasasti Jiyu juga disebutkan adanya pembangunan asrama untuk memperingati ibu dari Girindrawardhana. Prasasti Kembangsore juga berangka tahun sama, isinya simah atau pemberian kekuasaan atas tanah oleh Raja Girindrawardhana kepada daerah tersebut agar bebas pajak sebagai balas budi raja atas jasa-jasa daerah tersebut," jelasnya.

Bukti-bukti arkeologis tersebut, kata Wicaksono, belum termasuk struktur bangunan kuno dari susunan bata merah dan batu andesit yang masih terpendam di lahan pertanian Desa Jiyu. Menurut dia, jejak kekuasan Raja Girindrawardhana juga banyak ditemukan di wilayah sekitar Jiyu. Mulai dari Kecamatan Mojosari, Pacet, hingga Jatirejo.

Oleh sebab itu, Wicaksono membuat hipotesis tentang lokasi Dahanapura. Yaitu ibu kota Majapahit pada masa kepemimpinan Girindrawardhana. Pada beberapa prasasti lain disebutkan kota raja Majapahit dipindahkan dari Trowulan, Kabupaten Mojokerto ke Dahanapura akibat perang Paregrek. Yakni perang perebutan kekuasaan Majapahit antara Wikramawardhana dengan Wira Bhumi.

"Para ahli menduga Dahanapura di Daha, Kediri. Kalau saya merujuk data-data arkeologis, jejak Girindrawardhana banyak ditemukan di Mojosari, Pacet, Kutorejo dan Jatirejo. Girindrawardhana juga dikenal dengan Raja Gunung. Maka lebih tepat ibu kotanya di sini (Desa Jiyun dan sekitarnya) karena dekat dengan Gunung Penanggungan dan Welirang. Dahanapura itu kelihatannya dipindahkan tidak jauh dari kota raja di Trowulan. Bukan yang selama ini merujuk ke Kota Daha di Kediri," cetusnya.

Wicaksono meyakini, wilayah kekuasan Raja Girindrawardhana pada masa Majapahit akhir semakin menyempit. Selain perang saudara yang memperebutkan kekuasaan, wilayah Majapahit semakin kecil akibat semakin kuatnya kerajaan Islam di wilayah pesisir Jawa Timur dan masuknya kongsi dagang Belanda, VOC.

"Hal itu semakin melemahkan kekuasaan Majapahit kelihatannya semakin bergeser ke gunung-gunung. Kota raja di Trowulan ditinggalkan karena dianggap sudah kehilangan kesucian setelah diserang musuh. Banyak wilayah bawahan memisahkan diri. Sehingga wangsa Girindrawardhana kekuasaannya menciut," tandasnya.

Halaman

(fat/fat)