Komisi VI DPR Pertanyakan Harga Gula: Kok Enggak Turun-Turun?

Hilda Meilisa - detikNews
Sabtu, 16 Mei 2020 15:57 WIB
Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam
Anggota Komisi VI DPR RI Mufti Anam (Foto: Istimewa)
Pasuruan -

Anggota Komisi VI DPR RI yang membidangi masalah perdagangan, Mufti Anam, menyoroti harga gula yang tak kunjung turun. Di pasar, harga gula masih jauh di atas harga eceran yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 12.500 per kilogram.

"Kementerian Perdagangan, khususnya Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, bagaimana ini kerjanya? Harga kok enggak turun-turun? Bahkan kemarin-kemarin awet Rp 17.500 per kilogram. Ini memberatkan masyarakat," ujar Mufti, Sabtu (16/5/2020).

Politisi PDI Perjuangan itu mengatakan hari ini pihaknya mengecek harga di daerah pemilihannya, Pasuruan dan Probolinggo. Ternyata di pasar tradisional, gula masih tembus kisaran Rp 16.500 per kilogram. Adapun di pasar modern Rp 15.000 per kilogram.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional, per 16 Mei 2020, harga gula memang masih tinggi. Di Jawa Timur, rata-rata tembus Rp 16.350 per kilogram di pasar tradisional, atau sekitar 30 persen lebih tinggi dari harga acuan tingkat konsumen. Di Jawa Tengah, Jabar, dan sejumlah provinsi lain, bahkan tembus Rp 17.000 per kilogram.

"Kita bisa hitung berapa keuntungan yang diambil oleh para pemain gula, justru di saat masyarakat kesulitan ekonomi," ujar Mufti.

Mufti menyoroti dua penyebab gula terus membubung tinggi sejak awal tahun. Pertama, tiadanya analisis manajemen stok yang baik dari Ditjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag yang mempunyai tugas stabilisasi harga barang kebutuhan pokok.

"Akibat analisis stok yang tidak cermat, pemegang kebijakan lamban mencari solusi. Saat stok tidak ada, baru bingung. Harga sudah kelewat naik, baru lakukan langkah A, B, C, termasuk impor. Hal yang sama juga terjadi pada komoditas bawang," ujarnya.

Dia menyebut momentum impor oleh Kemendag terlambat, sekaligus menunjukkan minimnya kemampuan analisis manajemen stok, termasuk semestinya sejak awal tahun sudah mendeteksi perubahan lanskap perdagangan internasional setelah wabah COVID-19 muncul di China.

"Mengapa terlambat dan menunjukkan minimnya analisis manajemen stok? Pertama, harga telanjur naik lama sekali. Kedua, akhir Mei-Juni ini pabrik gula mulai giling tebu petani, yang artinya pasokan gula akan lancar," ujarnya.

Dia mengingatkan agar impor gula yang bakal masuk skala besar ke Indonesia pada Mei dan Juni melalui BUMN benar-benar diawasi.

"Impor yang menumpuk mendekati musim giling tebu petani harus diawasi agar tidak membuat harga gula petani jatuh, karena ini berbarengan dengan giling di puluhan pabrik gula. Kapan datangnya, di mana pelabuhannya, untuk memenuhi pasar mana saja ini harus klir," papar Mufti.

Faktor kedua harga gula tinggi, sambung Mufti, adalah lemahnya pengawasan distribusi gula.

"Impor gula sudah mulai dilakukan, gula rafinasi juga direalokasi untuk pasar konsumsi, tapi kenapa harga di pasar masih tinggi? Itu jadi bukti lemahnya pengawasan distribusi bahan pokok. Ini siapa yang bermain di rantai distribusinya? Kenapa Kemendag diam?" tandas Mufti.

Jokowi Sentil Tingginya Harga Gula Pasir, Menko Airlangga Menjawab:

(hil/iwd)