Satu Perawat Situbondo Jadi Relawan Corona di Wisma Atlet Jakarta Biaya Sendiri

Ghazali Dasuqi - detikNews
Jumat, 01 Mei 2020 09:30 WIB
Satu Perawat Situbondo Ini Jadi Relawan COVID-19 di RS Wisma Atlet Jakarta
Perawat Situbondo jadi relawan di Jakarta (Foto: Ghazali Dasuqi/detikcom)

Selama jadi relawan di RSDC Wisma Atlet Jakarta, Yudha bertugas di lantai 29 tempat pasien positif COVID-19 dirawat. Dalam satu lantai itu, ada 56 pasien yang dirawat dan dijaga oleh 3 orang perawat. Selama masa perawatan, seluruh pasien tidak diperbolehkan meninggalkan kamar. Semua kebutuhan pasien dari luar kamar harus dilayani perawat yang melayani.

"Jadi naik turun dari lantai 1 ke lantai 29 untuk melayani pasien itu sudah biasa. Capek sih pasti, makanya butuh tenaga ekstra. Tapi ini kebanggaan, karena saya bisa berjuang di garda terdepan," tandas Yudha sembari menambahkan, elama di sana, saya pernah merawat artis FTV yang juga positif Corona.

Selama bertugas sebagai relawan medis di RSDC Wisma Atlet Jakarta, Yudha dan tim medis lainnya juga tak pernah lepas dari APD atau hazmat. Dalam satu kali piket, penggunaan hazmat itu bisa berlangsung hingga 8-9 jam. Tak heran, bagian pangkal hidung Yudha sampai mengalami luka lecet akibat penggunaan masker N-95 yang terlalu lama.

"Menggunakan masker N-95 itu cukup sakit, meski sudah diplester sebelumnya. Tapi demi keamanan diri, tetap harus dipakai dan mengabaikan rasa sakit," ujar pria kelahiran Dusun Pariyaan Desa Sumberkolak Kecamatan Panarukan itu.

Perawat di RS Wisma Atlet Jakarta/Perawat di RS Wisma Atlet Jakarta/ Foto: Ghazali Dasuqi

Tak hanya merasakan lelah dan beratnya ber-Hazmat saja. Selama menjadi relawan medis di RSDC Wisma Atlet Jakarta, Yudha mengaku juga sering didera rasa kangen terhadap istri dan anaknya. Di saat demikian, tak banyak yang bisa dilakukan untuk mengobati rasa kangennya itu.

"Satu-satunya ya hanya dengan aplikasi video call itu. Tapi tentu itu harus di luar waktu piket," kenang Yudha.

Tugas sang perawat Yudha menjadi relawan medis di RSDC Wisma Atlet Jakarta ini akhirnya berakhir pada 22 April lalu. Namun, saat itu dia tidak bisa langsung buru-buru pulang untuk menjumpai anak dan istrinya. Ada beberapa prosedur yang harus dilalui, di antaranya masa karantina di Jakarta.

"Saya baru diijinkan pulang setelah dua kali menjalani tes Swab dan hasilnya negatif. Saya tiba di Situbondo dua hari lalu, dan sampai sekarang masih isolasi mandiri," pungkas Yudha Adhi Prathama.

selanjutnya
Halaman

(fat/fat)