Sebelum Rumah Dirusak, Pasutri Tertuduh Santet di Situbondo Sempat Mengungsi

Sebelum Rumah Dirusak, Pasutri Tertuduh Santet di Situbondo Sempat Mengungsi

Ghazali Dasuqi - detikNews
Kamis, 30 Apr 2020 20:20 WIB
santet di situbondo
Mobil milik korban yang dirusak massa (Ghazali Dasuqi/detikcom)
Situbondo - Tuduhan dukun santet berujung perusakan rumah pasutri di Desa Sumberrejo, Kecamatan Banyuputih, bukanlah yang pertama. Tuduhan terhadap si suami berinisial LT (65) sebenarnya muncul sejak beberapa bulan lalu. Akibat tuduhan tersebut, LT dan istrinya, WN (55), sempat pergi meninggalkan rumahnya.

"Jadi, waktu kejadian perusakan, pasutri itu baru dua hari datang dan menempati rumahnya. Jadi tuduhan itu sudah lama, upaya penyelesaian juga sempat dilakukan melibatkan tokoh setempat," kata Kapolres Situbondo AKBP Sugandi, Kamis (30/4/2020).

Keterangan yang diperoleh detikcom menyebutkan tuduhan dukun santet itu muncul setelah ada salah seorang warga setempat meninggal dunia beberapa bulan lalu. Tuduhan itu mengarah kepada LT, yang saat itu memang buka praktik perdukunan di rumahnya. Sejumlah tokoh masyarakat desa pun berusaha turun tangan.

"Jadi waktu itu ada semacam tempat ritual milik tertuduh di dalam rumahnya yang sampai dibuka oleh warga. Tempatnya itu tertutup kain gorden," kata Sugandi.

Namun upaya ini rupanya tetap tidak membuahkan hasil. Terbukti, sejak beberapa waktu lalu, LT dan istrinya terpaksa keluar dari rumah yang sudah lama ditempatinya. Keduanya mengungsi ke rumah menantunya di Pulau Sapudi, Madura. Mereka baru kembali setelah masalah bisa dicairkan.

Namun, beberapa hari kemudian, keduanya kembali merasakan tekanan hingga harus beranjak keluar dari rumahnya lagi. Saat itu, pasutri ini memilih tinggal di rumah kontrakan di sebuah kawasan perumahan. Namun baru tiga hari menempati rumah kontrakan, LT dan istrinya kembali didatangi oleh perangkat desa setempat dan memintanya pindah.

"Kami mengontrak rumah itu Rp 5 juta setahun. Tapi baru 3 hari menempati sudah diminta pindah lagi," tutur WN kepada wartawan di Wisma Rengganis, Situbondo.

Begitu keluar dari rumah kontrakan, WN menambahkan, ia tak tahu lagi ke mana harus pulang. Selama dua hari ia bersama suaminya pun tinggal dan tidur di dalam mobil miliknya. Sebelum akhirnya beberapa hari lalu ia memutuskan pulang. Namun beberapa hari berselang, terjadilah perusakan.

"Mobil Carry itu dibelikan orang. Tapi sekarang sudah tidak ada (rusak). Suami saya memang bertani. Tapi kalau ada tamu, ya dilaksanakan. Biasa ngobati orang," tutur WN sambil terisak. (iwd/iwd)