Sepak Terjang Gus Sholah di Indonesia, Mulai Politik hingga HAM

Enggran Eko Budianto - detikNews
Senin, 03 Feb 2020 08:24 WIB
Gus Sholah meninggal dunia
Gus Sholah meninggal dunia (Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom)

Sejak 1998, Gus Sholah mulai aktif menulis. Tulisan-tulisannya menyoroti berbagai persoalan yang dihadapi umat dan bangsa Indonesia banyak dimuat di media cetak nasional. Tidak hanya itu, dia juga menulis beberapa judul buku.

Yaitu Negeri di Balik Kabut Sejarah (November 2001), Mendengar Suara Rakyat (September 2001), Menggagas Peran Politik NU (2002), Basmi Korupsi, Jihad Akbar Bangsa Indonesia (November 2003) dan Ikut Membangun Demokrasi, Pengalaman 55 Hari Menjadi Calon Wakil Presiden (November 2004).

Gus Sholah juga menulis buku Berguru pada Realitas: Refleksi Pemikiran KH Salahuddin Wahid menuju Indonesia Bermartabat (2011), Memadukan Keindonesiaan dan Keislaman (2017), serta Mengenal Lebih Dekat Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari (2018).

"Karir beliau antara lain pernah menjadi Dewan Penasehat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Umat (PKU), salah satu Ketua PBNU periode 1999-2004, serta anggota Komnas HAM periode 2002-2007," terang Azwani.

Dalam percaturan politik nasional, Gus Sholah pernah menjadi calon Wakil Presiden pada Pemilu 2004. Saat itu dia dipinang Partai Golkar untuk berpasangan dengan Wiranto. Namun, pasangan Wiranto-Gus Sholah kalah dalam putaran pertama Pemilu pada 5 Juli 2004.

"Sejak 13 April 2006 Gus Sholah menjadi pengasuh Ponpes Tebuireng sampai sekarang. Beliau menggantikan pamannya KH Yusuf Hasyim atau Pak Ud," ungkap Azwani.

Di bawah kepemimpinan Gus Sholah, Ponpes Tebuireng berkembang pesat. Bahkan saat ini pesantren tersebut mempunyai 15 cabang di Indonesia.

"Gus Sholah mendapat gelar Doktor Honoris Causa dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pada 10 Desember 2011. Salah satunya karena kesuksesannya merevitalisasi pendidikan di Tebuireng," tandas Azwani.


(fat/fat)